2 Tahun Beroperasi, Polda Sumut Ungkap Pijat Gay di Medan

oleh -352 views
Dir Krimum Polda Sumut, Kombes Pol Irwan Anwar (dua kiri) saat gelaran konferensi pers pengungkapan kasus perdagangan orang modus pijat plus-plus khusus gay di Komplek Tasbih II, Jalan Ringroad, Medan, Selasa (3/6/2020). (orbitdigitaldaily.com/HO)

MEDAN – Belasan laki-laki dan ratusan alat kontrasepsi diamankan Polda Sumut dari Komplek Tasbih II Medan.

Mereka semua diamankan petugas lantaran terlibat sindikat perdagangan orang dengan modus pijat plus-plus khusus pria penyuka sesame jenis alias gay.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut, Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan, pengungkapan ini berkat kerja Subdit IV Renakta yang berhasil membongkar praktik pijat tersebut di Komplek Tasbih II Jalan Ringroad, Medan Sunggal, Sabtu 31 Mei 2020.

“Ada 11 orang diamankan, termasuk tersangka inisial H sebagai perekrut dan menyiapkan tempat. Sedangkan 10 pria lainnya sebagai terapis,” ujar Irwan Anwar di Mapolda Sumut, Rabu (3/6/2020).

Dari hasil penggerebekan, Polisi telah menyita 18 unit ponsel, uang tunai, beberapa alat komunikasi dan ratusan alat kontrasepsi.

Ia menerangkan, aktivitas pijat plus-plus khusus gay ini tergolong tertutup rapi.

 “Ini sifatnya memang tertutup dan terbatas. Jadi memang hanya dikalangan mereka saja, pasien dan terapisnya,” ungkapnya.

 Polda Sumut masih terus mendalami adanya jaringan dalam sindikat terapis khusus ini.

“Sifatnya kan tertutup dan terbatas. Kami dalami ada grup yang mereka gunakan, ada juga secara pribadi. Terapis ini sudah hampir 2 tahun beroperasi,” ujar Direktur.

Para tersangka, lanjut Direktur Ditreskrimum, dikenakan pasal 2 UU nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.

“Barang siapa yang merekrut, menampung atau mengangkut dengan tujuan eksploitasi itu dipidana minimal 3 tahun dan 15 tahun maksimal penjara. Didenda paling sedikit Rp 120 juta dan paling banyak Rp 600 juta. Bisa juga dijerat pasal 256 KUHP dengan memudahkan perbuatan cabul,” jelasnya.

“Siapa-siapa saja yang mempergunakan layanan ini, secara teknis akan kita dalami. Barang buktinya ini tidak lazim dilakukan seperti adanya alat kelamin, ada ratusan alat kontrasepsi. Kami juga mendalami percakapan mereka gunakan untuk melayani,” tandasnya. (Diva Suwanda)