BNN RI Targetkan Madina Zona Aman Narkotika Lewat Program KRDN Tahun ke-5

Direktur Alternatif Development Brigjend Pol.Drs.Edy Suasono MM saat menyerahkan alat kepada masyarakat (OD 29)

MADINA l Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkuat implementasi program Ketahanan Resiliensi Desa/Kelurahan Berbasis Alternatif Development (KRDN) sebagai langkah strategis Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Program ini dirancang mengalihkan profesi masyarakat yang sebelumnya terlibat kegiatan ilegal ke sektor ekonomi produktif dan legal, kegiatan tersebut dilaksanakan di aula Baringin Kecamatan Panyabungan Timur.

Bupati Madina H. Saipullah Nasution menjelaskan, program KRDN fokus membangun kemandirian ekonomi melalui pemberdayaan sektor kerajinan. Salah satunya pembuatan tusuk sate dan kerajinan lainnya.

“Hasil produksi masyarakat nantinya ditampung BUMDes, sehingga pelaku usaha tidak perlu khawatir ketidakpastian pasar. Masyarakat hanya perlu fokus memproduksi, sementara BUMDes akan membeli dan menjualnya ke daerah yang membutuhkan,” ujar Bupati. Selasa (9/06/2026)

Ke depan, program ini akan diperluas ke sektor perkebunan seperti kopi dan tembakau dan Pemkab Madina menyambut baik inisiatif BNN. Bantuan yang diberikan dinilai meringankan beban anggaran daerah dalam menyejahterakan masyarakat.

“Pemerintah daerah berharap program ini berkelanjutan dan mampu jadi solusi nyata menekan angka penyalahgunaan narkotika,” katanya.

Kolaborasi lintas sektor terlihat dari keterlibatan KPH-8 yang menyediakan mesin tusuk sate dan bibit tanaman. Pendekatan menyeluruh ini dinilai sebagai langkah strategis grand design alternatif development yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN RI melalui Direktur Alternatif Development Brigjen Pol Drs. Edy Suasono, M.M. menegaskan kegiatan ini bertujuan mewujudkan masyarakat Madina bebas narkoba dan meningkatkan kesejahteraan.

“Keberhasilan program diukur melalui Indeks KRDN atau Indeks Kerawanan Narkotika. Saat ini program memasuki tahun kedua. Pada tahun kelima, pemerintah menargetkan status kerawanan wilayah turun dari zona “bahaya” menjadi “waspada” hingga akhirnya “aman,” sebutnya.

Edy Suasono menegaskan program ini sangat strategis. Data menunjukkan dengan mengalihkan profesi satu orang petani saja, negara dapat menyelamatkan sekitar 400.000 orang serta menghemat biaya rehabilitasi hingga Rp1,2 triliun.

Melalui edukasi dan penyediaan sarana produksi, pemerintah berharap masyarakat tidak lagi terjebak lingkaran hukum, melainkan meraih kesejahteraan melalui usaha halal dan produktif.

Reporter: OD 29

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *