Anak Medan Bakal Ikuti Kompetisi APICTA Awards di China, Ini Karya Kerennya

oleh -245 views
Founder Kepul, Abdul Latif Nasution (kanan). Ist

Medan-ORBIT: Karya anak-anak muda Medan kali ini patut mendapat apresiasi dan dibanggakan. Melalui aplikasi Kepul yakni aplikasi jasa jual sampah daur ulang secara daring, proyek ini menjadi satu-satunya startup yang berasal dari Sumut yang berhasil menjadi delegasi Indonesia pada kompetisi bertaraf Internasional yaitu Asia Pasific ICT Alliance Awards (APICTA Awards) 2018. Kompetisi ini akan digelar di Guangzhou, China pada 9-13 Oktober 2018.

Salahsatu Founder Kepul, Abdul Latif Nasution mengatakan ketika dirinya masih menjadi mahasiswa USU, berkeinginan mengeksplorasi skill yang ada untuk membuat aplikasi yang bisa bermanfaat untuk orang banyak, sehingga tercetuslah ketika itu ide untuk membuat aplikasi Kepul bersama temannya Afrizal Yusuf Rangkuti.

“Awalnya kita berpikir bagaimana membuat aplikasi yang mirip seperti aplikasi transportasi daring yang sudah ada, tapi bisa dimanfaatkan untuk jasa jual sampah daur ulang. Sehingga aplikasi ini dapat menjadi solusi terhadap masalah sampah,” katanya, Selasa (18/9/2018).

Afrizal dan Abdul Latif merupakan sarjana Informasi Teknologi dari Universitas Sumatera Utara. Dan turut dibantu temannya sesama mahasiswa Informasi Teknologi USU ketika itu, yakni Amalia Rahmi Simanjuntak, Novira Naili Ulya Siregar, Dendy Herlambang dan Astria M Silaban.

“Kami menyadari aplikasi ini muncul karena persoalan sampah yang tak teratasi. Banyaknya sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), hal itu juga disebabkan minimnya Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang ada di Medan. Sebab itulah kami menciptakan aplikasi layanan yang bisa diakses masyarakat secara mudah, cepat dan murah,” ujar Latif.

Dikatakan Latif, aplikasi jasa pengumpulan sampah daur ulang ini dilakukan melalui pengepul-pengepul (tukang botot) yang ada di sekitar tempat tinggal masyarakat. Jadi pengguna aplikasi yang ingin mengumpulkan sampah daur ulang miliknya dapat mencari pengepul terdekat dari rumahnya melalui aplikasi Kepul dengan memanfaatkan sistem navigasi GPS.

“Para pengepul ini nantinya akan mengumpulkan sampah dari pengguna aplikasi. Sebaliknya, pengepul akan memberikan uang sesuai dengan harga dan jumlah berat sampah yang diberikan,” kata Latif.

Selain itu, Kepul juga menyediakan pasar untuk produk dari daur ulang barang bekas (sampah) yang dikumpulkan para pengepul, tentunya dengan menjual produk UMKM dari olahan sampah daur ulang. Sehingga, aplikasi ini juga nantinya bisa dimanfaatkan untuk memasarkan produk UMKM hasil daur ulang sampah.

“Untuk saat ini, aplikasi Kepul masih menggunakan sistem call center, karena aplikasi Kepul masih di reviewer oleh google, dan baru bulan depan akan dilaunching di Playstore,” ujarnya.

Namun, selama 5 bulan berjalan dengan sistem call center, saat ini sudah ada sebanyak 10 pengepul yang bergabung di mana masing-masing pengepul berada 3 di kawasan Padang Bulan, 2 di Medan Johor, 2 di Setia Budi dan 3 di kawasan Sisingamangaraja. Selain itu, jumlah transaksi juga sudah mencapai sebanyak 750 transaksi.

“Jadi pengguna saat ini bisa menghubungi call center kami, dan para pengepul nantinya akan menjemput sampah daur ulang ke masyarakat yang menelepon kami,” katanya.

Begitu pun, Latif mengatakan untuk memulai menjalankan aplikasi ini tentunya banyak tantangan yang dihadapi, terutama dari sisi pengepul. Syukurnya mereka bisa menemukan salah seorang pengepul yang masih muda sehingga mengerti akan kemajuan teknologi, dari pengepul inilah yang kemudian menyebar luas ke pengepul lainnya.

“Harapan kami pada saat aplikasi ini dilaunching di Playstore nantinya sudah ada sebanyak 1.000 pengepul. Harapan lainnya, tentu saja kami berkeinginan untuk bisa menang dalam kompetisi APICTA Awards 2018. Saat ini mereka mengharapkan dukungan dari berbagai pihak, terutama dukungan dana untuk dapat berangkat mengikuti kompetisi tersebut,” ujarnya.

Bahkan mereka juga membuat gerakan 3.000 orang donatur yang berbaik hati dan bersedia menyumbangkan Rp10 ribu per orang, agar mereka dapat mengikuti kompetisi tersebut.

“Kami memang mengajak kita semua untuk berjuang bersama, agar tim ini bisa berkompetisi di China,” pungkas Latif yang saat itu juga mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah. Om-Nis