Cerita WNI Hilang Kontak Selama 31 Tahun Hingga Ditemukan KBRI Riyadh

oleh -55 views
Carmi dan Eneng (Istimewa dokumen KBRI Riyadh)

JAKARTA – Tim Perlindungan KBRI Riyadh menemukan Carmi binti Ilyas, WNI asal Cirebon yang dikabarkan hilang kontak. Carmi bahkan hilang kontak selama 31 tahun lamanya.

Berdasarkan keterangan resmi, Senin (9/9/2019), tim KBRI Riyadh bekerja sama dengan aparat keamanan di Provinsi Gasem berhasil menemukan Carmi di kawasan al-Ammar, berjarak 400 km dari Riyadh.

Saat ini, Carmi telah berada di Rumah Singgah ‘Ruhama’ (Rumah Harapan Mandiri) KBRI Riyadh dan kondisi psikologisnya belum stabil.

Selain itu, Carmi masih sulit berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, hanya bisa berbicara bahasa Arab Amiyah dan Jawa Cirebonan.

Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, ketika bertemu Carmi harus berkomunikasi dengan bahasa Arab untuk mengorek tentang identitas dan latar belakang hilangnya Carmi selama 31 tahun.

Selain Carmi, Tim Perlindungan WNI KBRI Riyadh juga berhasil menemukan Sarni binti Ama Jasman asal Lombok yang juga tak pulang puluhan tahun.

Sementara, Eneng Mirawati binti ACU juga ditemukan tim KBRI di kota Khafji, 530 km arah timur Riyadh. Penemuan Eneng bermula dari laporan suami Eneng, Erwin Sudiawan ke Facebook Dubes Agus Maftuh Abegebriel.

Carmi, Eneng dan Sarni bersama dengan 200 lebih WNI penghuni Rumah Singgah yang terkena masalah sedang menunggu proses pemulangan ke Indonesia.

Didampingi Koordinator Perlindungan Warga, Raden Ahmad Arief dan Atase Ketenagakerjaan Sakdulloh, Agus Maftuh mendengarkan berbagai curhat dan laporan dari beberapa penghuni, terutama yang sudah berusia di atas 55 tahun.

“Sebelum saya mengakhiri tugas sebagai Dubes RI sekaligus pelayan WNI di Saudi ini, saya akan berusaha maksimal untuk memulangkan mbak-mbak semua ke Indonesia,” kata Maftuh Abegebriel yang sudah bertugas 3 tahun 6 bulan di Saudi.

“Amin,” timpal para penghuni Ruhama.

Agus Maftuh Abegebriel juga menjenguk 6 WNI yang sedang sakit dan berjanji KBRI akan selalu peduli untuk membantu pengobatan serta meringankan beban mereka-mereka yang kurang beruntung ini.

Agus Maftuh lantas berbicara soal kebijakan moratorium Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Timur Tengah yang menurutnya ternyata tidak mampu menutup lorong banjirnya para WNI untuk masuk secara non-prosedural.

Dia memandang perlunya kebijakan yang komprehensif untuk menyelesaikan permasalahan ketenagakerjaan ini secara komprehensif mulai hulu sampai hilir.

Ia memaparkan bahwa masih banyak penemuan banyaknya PMI ke Arab Saudi yang landing di 4 Bandara favorit, Riyadh, Jeddah, Madinah dan Damam dengan memakai visa ziarah (kunjungan), visa syarikah (perusahaan) dan visa umrah yang kabur.

Semua pemakai visa ini, kata dia, tidak terdaftar di KBRI Riyadh ataupun KJRI Jeddah dan baru ketahuan ketika mereka menghadapi masalah ketenagakerjaan maupun masalah hukum di Arab Saudi.

Meski berkeyakinan bahwa melayani WNI yang terkena masalah di Saudi adalah suatu ibadah, namun Agus Maftuh berharap adanya ‘extraordinary effort’ atau usaha luar biasa dari semua pihak untuk mencari solusi ideal terhadap permasalahan ketenagakerjaan sekaligus kemanusiaan ini. (*)

Sumber: detik.com