Covid-19 dan Semakin Besarnya Ancaman Kepunahan Orangutan

Bayi Orangutan saat bersama manusia. (foto: Internet)

SUSUNAN DNA Orangutan yang hampir sama dengan DNA manusia menjadikan orangutan sangat rentan dan memiliki potensi terinfeksi oleh virus corona yang sedang melanda dunia saat ini.

Selain perburuan dan rusaknya habitat orangutan karena alih fungsi kawasan hutan, kemungkinan penularan virus ini dapat menjadi ancaman penyusutan habitat orangutan yang baru di Indonesia. 

 Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menghentikan penularan virus corona agar orangutan di Indonesia tidak terjangkit, karena kita tidak akan tahu efek apa yang akan ditimbulkan setelah ada orangutan yang terpapar virus tersebut.

Seperti halnya Flu dan Ebola, memang efeknya tidak menimbulkan masalah, namun beberapa diantaranya menimbulkan penyakit baru yang sulit untuk disembuhkan.

Dr Fabian Leendertz, ahli di bidang virus pada kera besar dan penulis utama The Letter to Nature mengatakan aktivitas orangutan yang kerap bersinggungan dengan manusia menjadikan masalah kepunahan spesies ini semakin besar.

“Sebenarnya ketika mereka berada jauh dengan manusia risiko tertularnya itu kecil. Hanya saja pencemaran lingkungan oleh manusia, lalu diikuti oleh adanya kontak fisik antara manusia dan orangutan. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan penularan. Jika ada Orangutan atau primata lainnya yang terinfeksi, akan jadi kasus terburuk. Spesies yang terancam punah ini akan semakin kritis karena akan kehilangan beberapa individunya,” sebut Fabian.

Fokus dunia saat ini memang pada penanganan pandemic Covid-19 yang telah tersebar di 184 negara dengan total lebih dari 2 juta orang yang terinfeksi.

Sementara tercatat ada 160 ribu jiwa (data per tanggal 20 April 2020) yang meninggal dunia. Tidak heran jika makhluk lain di bumi sedikit luput dari perhatian.

Kerap Bersinggungan dengan Manusia

Faktanya, meskipun habitat Orangutan utamanya adalah di hutan, namun seiring dengan perusakan hutan yang massif menyebabkan banyak kasus orangutan turun ke permukaan, dan bersinggungan dengan pemukiman warga.

Dilansir dari BBC, Prof. Serge Wich, Peneliti dari Universitas John Moores Liverpool menyatakan bahwa dengan menghentikan sementara pariwisata serta proyek-proyek infrastruktur yang bersinggungan dengan habitat orangutan, setidaknya itu dapat dapat mengurangi kontak antara manusia dan orangutan yang berpotensi dapat menyebabkan penyebaran virus.

“Kami tidak tahu apa efek virusnya pada mereka dan itu berarti kita harus mengambil langkah dengan kehati-hatian. Mengurangi risiko mereka terkena virus. Itu berarti menghentikan pariwisata yang sudah dilakukan di beberapa Negara, mengurangi penelitian, sangat berhati-hati dengan program reintroduksi. Tetapi ini juga berpotensi menghentikan infrastruktur dan proyek ekstraktif di habitat kera besar yang membawa orang lebih dekat dengan kera besar dan dengan demikian berpotensi menyebarkan virus ini kepada mereka,” ujar Serge.

Ancaman tersebut sangat membuat para ahli khawatir. Pasalnya, ketiga spesies orangutan yang diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah ini akan terancam menuju kepunahan, terutama satu spesies yang baru diidentifikasi di tahun 2017, yakni orangutan Tapanuli yang diprediksi jumlahnya kurang dari 800 individu.

Kerusakan Habitat Penyebab Interaksi

Di tengah ancaman aktivitas manusia seperti penebangan liar hingga proyek pembangunan PLTA, kini Orangutan Tapanuli dihadapkan pada ancaman penularan Covid-19.

“Orangutan adalah hewan yang sebagian hidupnya dihabiskan di atas pepohonan, risiko penularan pada mereka kemungkinannya kecil bila dibandingkan dengan kera besar lainnya. Akan tetapi hal itu masih dipertimbangkan karena beberapa dari mereka turun ke permukaan dan bisa menjadi sangat dekat dengan para peneliti. Tentu saja, di tempat perlindungan kemungkinan penularan akan lebih tinggi dibandingkan di alam liar,” tambah Serge.

“Dan khususnya orangutan Tapanuli menjadi perhatian lebih bagi kami, mengingat cara hidup orangutan yang relatif soliter, kemungkinan penyebaran virusnya menjadi akan terbatas tergantung pada berapa lama mereka membawa dan menyebarkannya.”

Bukan sedikit kasus Orangutan yang turun ke permukaan dan bertemu ataupun masuk ke pemukiman warga.

Seperti contoh kasus beberapa tahun lalu ketika orangutan masuk ke pemukiman warga di Kalimantan Timur, karena habitatnya yang mulai rusak oleh aktivitas penambangan batu bara.

Lalu orangutan Tapanuli yang terjebak di kebun warga dengan badannya yang kurus dan penuh luka, serta tempat tinggalnya yang sudah rata dengan tanah yang membuat ia berpindah ke daerah perkebunan .

Melihat hal ini, Orangutan dan kera besar lainnya perlu menjadi salah satu perhatian di kala pandemic ini sebagai salah satu yang berpotensi tertular dan ancaman menuju kepunahan semakin dekat. (Rel)