Medan

Diskriminasi ODHA, Bukti Kurangnya Edukasi Masyarakat Tentang HIV/AIDS

Kejadian diskriminasi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang kembali terjadi di Sumut, khususnya yang sedang heboh di Samosir belum lama ini, menjadi bukti bila edukasi terkait penyakit tersebut belum memadai.

Apalagi, masih ada yang berpikir orang yang HIV akan cepat meninggal dan penularannya gampang. Jadi, kalau ada yang terinfeksi HIV, masyarakat akan menghindari seperti Samosir dan ada juga di Deliserdang dan juga di pelayanan kesehatan.

“Dianggap penularan HIV ini gampang tertular. Padahal jika kita hanya bersentuhan biasa tidak akan tertular. Sehingga butuh pengetahuan masyarakat agar tidak salah menilai orang yang terjangkit AIDS,” ujar Antono dariĀ Focal Point Jaringan Indonesia Positif (JIP) Wilayah Kabupaten Deli SerdangĀ dalam pertemuan dengan media untuk memperkuat jejaring dan mengurangi meminimalisir stigma dan diskriminasi HIV, Rabu (5/12/2018) di Medan.

Sementara untuk penularan kasus baru, ia mengatakan sedikit menurun. Tetapi tiap bulan ditemui kasus baru, yang mungkin tertular 5 atau 10 tahun lalu dan tahun ini baru terjadi serta tau statusnya terinfeksi HIV.

Akan halnya di Deliserdang, menurut Antono, persentase kasus baru estimasinya tiap tahun bertambah sampai seratus lebih.

“Dari data yang mengkonsumsi ARV di Deliserdang, jauh diangka estimasi. Karena mereka kebanyakan mengaksesnya di Medan sebab lebih dekat,” katanya.

Begitupun, ujarnya lagi, Pemkab Deliserdang memberikan perhatian terhadap ODHA dan adanya program yang berjalan.

“Seperti pembentukan warga peduli AIDS di Percut dan di 5 desa di Pantai Labu,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, dunia global telah memiliki strategi Fast-Track untuk mengakhiri epidemi AIDS tahun 2030. Ada 3 tujuan besar yang ingin dicapai untuk mewujudkan target Three Zero yaitu tidak ada lagi penularan HIV. Tidak ada lagi kematian akibat AIDS dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi baik pada ODHA, populasi kunci maupun kelompok rentan.

Sedangkan untuk di Deli Serdang, Antono menyebutkan epidemi kasus HIV/AIDS dari 2016 sampai September 2018 berjumlah 1.921 orang. Dari jumlah itu yang HIV 1156 dan AIDS 765 serta yang meninggal 109 orang.

“Persoalan diskriminasi yang terjadi justru kemudian melemahkan berbagai upaya penanggulangan HIV yang sudah dilakukan. Diskriminasi tidak akan hilang tanpa peran aktif dan tindakan dari semua orang untuk mengakhirinya termasuk peran media,” katanya.

Pertemuan yang dibarengi dengan diskusi tersebut dihadiri Ketua JIP Sumut, Samara Yudha dan Direktur MedanPlus, Erwin serta undangan lainnya. OD-01

Komentar Facebook

Artikel Terkait