Global God Divide

oleh -96 views
Sohibul Ansor Siregar

Alihbahasa oleh Shohibul Anshor Siregar

Anda pernah mendengar judul sebuah buku “Sejarah Tuhan”? Terasa aneh, namun buku itu ditulis pertamakali tahun 1993 oleh Karen Armsrong.

Dengan judul asli A History of God buku ini merinci sejarah tiga tradisi monoteistik utama agama dunia, yakni Yudaisme, Kristen dan Islam, bersama dengan Buddhisme dan Hindu.

Evolusi gagasan tentang Tuhan dilacaknya dari akarnya di Timur Tengah hingga saat ini hingga mencakup seluruh persebaran wilayahnya yang terkadang berhimpitan.

Christine Tamir, Aidan Connaughton dan Ariana Monique Salazar, ketiganya dari Pew Research Center yang berpangkalan di Amerika, menuliskan laporan penelitian lembaga itu yang dilaksanakan pada tahun lalu (2019). Mereka tergelitik dengan pikiran orang-orang tentang apakah kepercayaan pada Tuhan selalu diperlukan untuk bermoral dan bagaimana bervariasinya berdasarkan perkembangan ekonomi, pendidikan dan usia.
Lebih menukik, pertanyaan penelitian itu tertuju pada pencarian jawaban “Apa hubungan antara kepercayaan pada Tuhan dan moralitas? Seberapa pentingkah Tuhan dan doa dalam kehidupan manusia? Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kepada 38.426 responden di 34 negara.

Ke-34 negara yang dijadikan sampel populasi tersebar di enam benua. Rata-rata 45% mengatakan memang perlu percaya pada Tuhan untuk bermoral dan memiliki nilai-nilai yang baik. Tetapi ada variasi regional yang besar dalam jawaban untuk pertanyaan ini.

Orang-orang di negara berkembang yang termasuk dalam survei ini cenderung lebih religius dan lebih cenderung menganggap agama penting dalam kehidupan mereka. Mereka juga lebih cenderung dibandingkan orang-orang dalam survei ini yang tinggal di negara maju untuk mengatakan bahwa kepercayaan pada Tuhan adalah perlu untuk bermoral.

Perbedaan juga terjadi di dalam lingkungan suatu negara. Secara umum, orang yang relatif tidak beragama lebih cenderung daripada orang yang sangat religius di negara yang sama untuk mengatakan bahwa tidak perlu percaya pada Tuhan untuk menjadi orang yang bermoral.

Satu catatan penting lainnya dari temuan ini ialah data yang menunjukkan bahwa banyak orang mengatakan agama itu penting dan Tuhan memainkan peran penting dalam kehidupan mereka, namun faktanya mereka kurang memiliki konsensus tentang kepercayaan pada Tuhan dan moralitas.

Terlepas dari perbedaan dalam ketaatan beragama, rata-rata 62% di seluruh negara yang disurvei mengatakan bahwa agama memainkan peran penting dalam kehidupan mereka, sementara 61% setuju bahwa Tuhan memainkan peran penting dalam kehidupan mereka dan 53% mengatakan hal yang sama tentang doa.

Selanjutnya perhatikan temuan berikut ini. Bahwa sejak tahun 1991 yang lalu, jumlah orang yang mengatakan Tuhan itu penting bagi mereka telah meningkat di Rusia dan Ukraina, sementara yang sebaliknya terjadi dalam rentang waktu yang sama di Eropa Barat. Apakah ini mengejutkan bagi Anda?

Dalam delapan publik Eropa Barat yang disurvei, median hanya 22% mengatakan kepercayaan pada Tuhan diperlukan untuk bermoral, sementara di enam negara Eropa Timur yang diteliti, median 33% memiliki pandangan yang sama. Merujuk pada penelitian sebelumnya yang menetapkan benua Eropa sebagai semakin sekuler secara keseluruhan, meskipun di antara orang Eropa, ada perbedaan mencolok antara negara-negara Timur dan Barat dalam sikap terhadap agama dan minoritas agama.

Hal ini mungkin tidaklah terlalu mengejutkan bagi Anda, bukan? (*) ( Dosen FISIP UMSU. Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS) )