RagamSumatera Utara

GM Pujakesuma Tatap Muka dengan Grup Kuda Kepang se-Asahan

Kisaran-ORBIT: Untuk tetap melestarikan seni tradisional kuda kepang yang ada di Kabupaten Asahan, pengurus GM Pujakesuma Asahan di bawah kepemimpinan Iptu Rianto SH MAP menggelar tatap muka di Rumah adat Jawa, Selasa (6/11/2018).

Hadir dalam acara itu, Ketua Pujakesuma Asahan H Santoso beserta pengurus harian, pengurus GM Pujakesuma dan puluhan grup kuda kepang yang tersebar di wilayah Kabupaten Asahan.

Dalam sambutannya, Iptu Rianto mengatakan, selain melestarikan kesenian tradisional tersebut di Asahan, maksud dan tujuan diadakannya tatap muka ini juga untuk mempererat tali silaturahmi antara grup seni kuda kepang dengan pengurus GM Pujakesuma kabupaten Asahan.

Ketua GM Pujakesuma Asahan Iptu Rianto bersama Kepala Biro Harian Orbit, Suheri.

“Diharapkan pula dengan kegiatan ini dapat meningkatkan kebersamaan grup seni kuda kepang, sekaligus menghilangkan kesan bersaing sesama grup. Sehingga akan lebih mempererat tali silaturahmi,” kata Rianto.

Sejalan dengan upaya itu, Rianto juga berharap para tokoh dan penggiat seni budaya di Kabupaten Asahan perlu terus bersinergi dengan instansi pemerintah terkait untuk memperkenalkan dan membina generasi muda agar memahami dan cinta terhadap budaya asli Indonesia.

“Saya berharap seni kuda kepang dapat ikut mengharumkan nama Kabupaten Asahan di tingkat nasional,” ujar Rianto sembari berjanji akan selalu siap membina grup kesenian tersebut.

Lebih lanjut dia mengatakan, berdasarkan sejarahnya tari kuda kepang merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda.

Ada pula versi yang menyebutkan, tari kuda kepang menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram untuk menghadapi pasukan Belanda.

Namun, terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda kepang merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. “Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan,” katanya.

Di Kabupaten Asahan yang penduduknya mayoritas suku jawa, tarian ini biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, hajatan, dan sebagai ucapan syukur atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Dalam pementasanya tidak diperlukan suatu koreografi khusus. Gamelan untuk mengiringi tari kuda kepang cukup sederhana, hanya terdiri dari kendang, kenong, gong, dan slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking.

Sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta.

Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda kepang seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, seorang pawang hujan akan melakukan ritual untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah, mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.

Sementara itu, salah seorang pemilik grup kuda kepang “Mugi Rahayu” Kecamatan Simpang Empat, Gareng (51) mengapresiasi Ketua GM Pujakesuma Asahan yang dinilai memiliki perhatian dan kepedulian besar terhadap kesenian rakyat, di antaranya kuda kepang.

“Perhatian dan dukungan mas Rianto selaku Ketua GM Pujakesuma Asahan semakin memotivasi kami untuk lebih bergairah melestarikan dan memperkenalkan seni kuda kepang kepada masyarakat,” tutupnya. Od-Her

Komentar Facebook
Tags

Artikel Terkait