Haul Ke 10 Syekh Abdurrahman Rajagukguk: Rawat Kemajemukan dengan Cinta

oleh -70 views
uan Guru Batak ke 2 Syekh Dr Ahmad Sabban Rajagukguk elRahmaniy MA pada Haul ke-10 Syeh Abdurrahman Rajagukguk Qs. (foto: Istimewa)

SIMALUNGUN – Haul ke-10 Syeh Abdurrahman Rajagukguk Qs, Tuan Guru Batak ke 2 Syekh Dr Ahmad Sabban Rajagukguk elRahmaniy MA pewaris kemursyidan menghaturkan ribuan syukur.

Diadakan Sabtu (2/11/2019), meski tak mengundang pejabat penting di Sumut, menurut Syekh Dr Ahmad, Haul ke-10 Syekh Abdurrahman Rajagukguk Qs terlaksana penuh rahmat.

“Meskipun kali ini kita dan panitia haul sengaja tidak mengundang tokoh dan pejabat setingkat Sumut, tapi ternyata banyak juga tokoh dan umat yang hadir karena mendengarkan kegiatan haul ini. Sungguh ini suatu hujan rahmat dan keberkahan dari Allah ‘Azza Wajalla,” kataTuan Guru Syekh Dr Ahmad dihadapan para tamu udangan yang hadir.

Ia mengatakan, dalam tradisi Islam Nusantara dikenal dengan Haul. “Sebuah tradisi yang sudah begitu populer dalam Islam ke Indonesiaan kita. Khususnya dalam tradisi Islam Aswaja NU,” ungkapnya.  

Dalam berbagai literatur terkhsus dari peringatan haul yang disadur dari bahasa Arab dan memiliki arti setahun, adalah peringatan kematian seseorang yang diadakan setahun sekali.

“Tujuan utamanya untuk mendoakan, mengenang  dan mengambil iktibar atas wafatnya satu ulama dan tokoh sebagai tauladan jasa-jasa dan amal baik mereka,” ucapnya.  

Menurut Tuan Guru Batak ke (2) Syekh Dr Ahmad Sabban el Rahmaniy Rajagukguk MA, manusia dewas ini sangat miskin keteladanan.

 “Kita sekarang ini miskin keteladanan, bahkan sudah sampai salah kaprah dalam mengidolakan seseorang. Tuan Guru Batak Syekh Abdurrahman ini bukan hanya dikarunia Allah kecerdasan dalam ilmu-ilmu agama, khususnya ilmu makrifat. Dia juga juga sosok tokoh adat sekaligus yang mengharmonikan antara agama dengan budaya,” terang Dr Ahmad.

Masih menurut Dr Ahmad, kata Tuan Guru Batan Sabban agama dan budaya merupakan karunia Tuhan yang harus dipelihara dan diharmonikan. Karena keduanya adalah simbol dan karakter (fitrah) manusia.

Tidak pelak lagi semasa hidupnya, almarhum Tuan Guru Batak ini selain piawai dalam pidato (dakwah) keagamaan tapi juga mahir dalam tarombo batak serta sangat cinta dengan NKRI.

Piawai Berpidato dan Mahir Bertarombo

Syekh Abdurrahman Rajagukguk Qs secara Nasab kebatakan sampai 12 generasi kebelakang dalam tarombo batak yakni: Syekh Abdurrahman Rajagukguk ayahnya Binjamin ayahnya Musa ayahnya Amaniaji ayahnya Oppuniaji ayahnya Oppu Monang ayahnya Parbimbim ayahnya Oppu Sohuturon ayahnya Guru Tiniloan ayahnya Naihapatian ayahnya Pinggan Pasu dan ayahnya Tuan (Raja) Gukguk Ayahnya Aritonang.

Sedangkan secara spiritual (keruhanian) beliau Syekh Abdurrahman Rajagukguk Qs bersambung sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau berguru kepada Guru-guru besar yang ada diberbagi daerahnya dan Syekh-syekh masyhur di zamannya.

Sementara itu, beberapa daerah yang dikunjunginya dan bermukim untuk menuntut ilmu yakni di Padang Sidempuan dengan Tuan Guru Syekh Abdul Manan Siregar, Tanjung Medan dengan Tuan Guru Zakaria Musa.

Kemudian Medan dengan Tuan Guru Madjid Nasution dan terakhir di Basilam Langkat dengan Tuan Guru Syekh Fakih Tambah dan Syekh Abdul Mu’im Al Wahab sekitar tahun 1968.

“Disiplin keilmuan yang dipelajarinya dimulai dari pendidikan syariat (fiqih dan hukum-hukum Islam), thariqah (tasawuf akhlaqi, amali dan falsafi) baru tauhid serta hakikat-makrifa,” cerita Ahmad.

Menurutnya, Tuan Guru Batak Syekh Abdurrahman Rajagukguk Qs merupakan sosok ulama Sufi.

“Tuan Guru Batak Syekh Abdurrahman Rajagukguk Qs ini merupakan sosok Ulama sufi yang memiliki banyak karomah. Makamnya banyak diziarahi orang-orang besar mulai dari Presiden, tokoh-tokoh Nasional para Jenderal, Gubernur, Bupati, Walikota sampai masyarakat biasa,” katanya.

Ulama Bertaraf Wali

Selain guru spiritual, almarhum memiliki ajaran kekayaan kearifan dan kerukunan agar sesama anak bangsa rukun.

Beliau Ulama yang bertaraf Wali yang sangat dekat dengan Tuhan dan memiliki kepekaan serta kasih sayang dengan para orang miskin dan orang-orang lemah.

“Disaat bersamaan, almarhum juga adalah Ulama yang mencintai NKRI dan selalu menyampaikan ajaran-ajaran kerukunan,” ungkap pria pelanjut garis keturuna Tuan Guru Batak Syekh Abdurrahman Rajagukguk Qs.

Pelaksanaan Haul kali ini juga sekaligus dirangkai dengan presemian Gedung Suluk Hajjah Netty Sembiring, ibunda Bupati Simalungun yang dihadiri langsung oleh putra sulung Ustadz Dr Haji Ahmad Anton Saragih.

Hadir Bupati Labura Khadimul Masyayikh Haji Kharuddin Syah, Kapolres Simalungun AKBP Heribertus Oppusunggu, Dandim Simalungun Letkol Frans Panjaitan, Ketua MUI Siantar Buya Ali Lubis, para Tuan-tuan guru dan ‘Alim Ulama.

Mayor Legiman mewakili Danrindam, Tokoh Pendidikan Haji Ahmad Ridwan Syah, Kakankemenag Simalungun, Wakil Bupati Ir Haji Amran Sinaga dan Sekda Simalungun Gidion Purba, Iskandar Sinaga Tokoh Sumut DPRD Sumut.  

Kemudian Bona Uli DPRD Simalungun sekaligus keluarga, Haji Mahsin SH Tokoh Sumut, Haji Akbar Siddik Surbakti Tokoh Sumut, DRG Haji Wahid  Khusyairi Tokoh Sumut, Deni Sartika Tokoh Perempuan Simalungun, Sastro Sirait Wakil Ketua DPRD Simalungun, Juarsah Siagian DPRD Simalungun dan sejumlah tokoh.  (Rel)