HeadlineNasional

Hukuman Mati Tak Menyenangkan, Tapi Harus Dilakukan

Hukuman mati dalam pandangan Jaksa Agung Republik Indonesia HM Prasetyo bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

“Saya selalu katakan hukuman mati itu bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi harus dilakukan. Melihat bahaya yang ditimbulkan oleh si pelaku kejahatan yang memang layak dihukum mati,” kata Prasetyo di Kejaksaan Agung, menanggapi Hari Anti-Hukuman Mati yang diperingati secara internasional hari ini.

Prasetyo juga menjelaskan hukum positif di Indonesia masih memberlakukan hukuman mati untuk beberapa kejahatan tertentu, seperti narkoba, pembunuhan berencana, dan terorisme. Karenanya, Prasetyo berpendapat penegak hukum dan hakim bisa saja menjatuhkan hukuman mati sesuai bukti dan fakta yang ada, yang tentunya dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, kesungguhan dan keterbukaan, serta tidak sembarangan.

“Sehingga semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Tidak mungkin orang dihukum mati karena tidak ada kesalahan. Tapi percayalah bahwa semua dilakukan secara terbuka, secara terukur, secara obyektif, profesional, dan proporsional. Tidak serta merta atau semena-mena, tidak. Semua hak hukumnya pasti diberikan. Termasuk pada saat menghadapi eksekusi pun, itu baru akan kita laksanakan setelah semua hak hukumnya dipenuhi,” jelas Prasetyo, dilansir detikcom.

Hak hukum yang dimaksud Prasetyo adalah terpidana bisa mengajukan banding ke pengadilan tinggi atau kasasi ke mahkamah agung. Bahkan terpidana bisa mengajukan peninjauan kembali jika memang mempunyai bukti baru, termasuk meminta grasi dan ampunan kepada presiden.

“Itu dilakukan semua, setelah terpenuhi itu baru kita menginjak ke tahap selanjutnya pelaksanaan hukuman matinya,” ujarnya.

Terkait dengan pemberlakuan hukuman mati, Prasetyo menceritakan pengalamannya saat berdiskusi dengan Jaksa Agung Rusia. Menurutnya, Kejaksaan Agung Rusia setuju dengan pemberlakuan hukuman mati karena melihat bahaya yang ditimbulkan oleh pelaku kejahatan tertentu.

“Meskipun sekarang ini mereka terikat pada ketentuan kesepakatan bersama hukum di Eropa sana, sehingga udah sejak 19 tahun yang lalu eksekusi pidana mati itu dimoratoriumkan, tapi mereka semuanya setuju,” pungkasnya.

Komentar Facebook

Artikel Terkait