Ini Inisiator, Dibalik Deklarasi Pasangan Anies dan Cak Imin

JAKARTA | Bak disamber bledek, tiba-tiba pasangan Anies Baswedan dan Cak Imin dideklarasikan di Hotel Yamato Surabaya. Tidak pakai proses panjang dan berbelit-belit. Begitu deal langsung saja deklarasi. Lalu menimbulkan kegemparan di banyak pihak.

Tapi benarkah sesingkat itu prosesnya? Benarkah ini hanya keputusan dan keberanian seorang Surya Paloh semata? Benarkah Cak Imin seolah ditodong begitu saja?

Kalau proses deklarasinya iya. Cepat, sat set, sehari persiapan langsung jadi. Tapi kalau proses menuju dan mengerucut pada pemasangan keduanya tentu saja tidak semudah itu jalan ceritanya.

Berdasarkan info yang saya terima, ini adalah peran besar Gus Mahasin (kakaknya Gus Baha) dan Mas Dhimam Abror (mantan wartawan senior Jawa Pos) atas terbentuknya pasangan AMIN ini. Lho kok bisa?

Begitulah. Yang bergerak di balik layar dan pergerakannya penuh kesungguhan seringkali tak ada yang tahu karena tak ada pemberitaan. Dan gerakannya itu memang bukan gerakan gimmick untuk pencitraan di media. Tapi memang pergerakan yang didorong oleh visi yang jelas.

Masih ingat dengan pertemuan Anies Baswedan dengan Gus Baha sekian bulan yang lalu? Banyak yang kaget karena Anies Baswedan diterima di ruangan Gus Baha hampir empat jam. Sementara tamu-tamu yang lain rata-rata hanya mendapatkan waktu satu jam. Kebanyakan mendapat waktu bertemu setengah jam saja sudah bagus. Sayangnya tak banyak yang bertanya, mengapa Anies Baswedan bisa bertemu muka dan berlama-lama berdiskusi dengan Gus Baha di kediamannya?

Sebetulnya, sedari awal mendeklarasikan Capresnya, Surya Paloh menginginkan pasangan Anies Baswedan ini adalah Khofifah, Gubernur Jatim. Tapi, upaya melobi lewat Gus Choi dan banyak tokoh NU Jatim lainnya tak pernah bisa meruntuhkan hati Bu Khofifah. Apalagi setelah kantor Bu Khofifah didatangi petugas KPK yang entah alasannya mau cari data Bansos atau sekedar psywar saja, membuat Bu Khofifah jadi membatasi diri untuk bertemu dengan Capres mana pun. Terutama Anies Baswedan.

Maka, langkah Gus Mahasin dan Mas Dhimam Abror yang menawarkan pilihan lain yakni Gus Muhaimin Iskandar adalah taktik jitu yang barangkali tak terpikirkan hampir oleh semua orang. Saya membacanya, Gus Mahasin sebagai konseptor di balik layarnya, sementara mas Dhimam Abror yang semasa menjadi wartawan dulu memiliki jaringan yang sangat kuat dengan banyak pihak (politisi, pesantren, ormas, kiai) melakukan gerilya di lapangan. Menyaring aspirasi dari tokoh-tokoh NU mulai dari Surabaya kota, Madiun, di tapal kuda, hingga kawasan BolaBatu (Bojonegoro, Lamongan, Blora, Tuban) yang merupakan kantong-kantong nahdiyin.

Jadi, deklarasi Anies-Cak Imin 2 September kemaren itu bukanlah kejadian yang simsalabim. Kalau momentumnya iya. Kalau prosesnya jelas tidak. Gerakan ala klandestin itu sudah dilakukan sejak lama, setahun lebih, tapi momentumnya baru dapat kemaren itu itu, pas satu dua hari nama Koalisi Gerindra-PKB diubah menjadi Koalisi Indonesia Maju. Momentum itulah yang membuat Peristiwa di Yamato berlangsung sangat cepat dan mudah. Lancar semuanya.

Tapi, saya kira bukan saja Gus Mahasin dan Mas Dhimam Abror saja yang menjadi orang-orang tulus yang memikirkan nasib bangsa ini ke depan tanpa memikirkan keuntungan apa untuk dirinya. Yang bergerak dengan visi besar dan keikhlasan lahir batin tanpa minta balasan apa-apa. Termasuk publisitas apalagi jabatan. Saya kira ada ribuan relawan di belakang sana, diantaranya ada Gus Rouf Qusyairi, Ketum Formas NU yang berjuang untuk Indonesia yang lebih sejahtera dan lebih adil yang membantu Anies Baswedan tanpa tendensi dan motif transaksional. Mereka bergerak dalam diam, tapi terus menerus mencarikan cara, bagaimana agar negeri ini bisa kita beri hadiah Pemimpin yang Benar.rel