ACEH TAMIANG | Usai Banjir besar pada 27 November 2025 yang memporak porandakan pemukiman warga, perkantoran hingga fasilitas umum, seorang lelaki paruh baya memakai kaos berwarna merah terlihat berjalan seperti sedang mencari sesuatu, Kamis (18/12/2025).
Saat dihampiri dia mengatakan sedang mencari rumah yang sudah hancur lebur, mau ambil surat penting seperti Ijazah anak, akta kelahiran dan KTP yang belum ketemu. Hingga baju sepotong pun belum ketemu, ucapnya.
Wajahnya terlihat serius menceritakan sepenggal kisah yang dialaminya saat banjir bandang melanda Gampong Bundar, Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang.
“Yaa.. gak taulah.. dalam gelap tuh orang menjerit jerit minta tolong juga,” ujar Adibo mengisahkan.
Suasana sangat mencekam, listrik padam suara tangisan bayi dan jeritan minta tolong terdengar. Air dengan cepat naik dalam tempo satu jam satu meter.
“Malam kamis puncaknya selepas Maghrib, hujan deras tidak kunjung berhenti. Pada malam hari pertama hari rabu itu air belum naik, jadi ketika sore harinya saya ungsikan keluarga saya ke sekolah di tingkat 2. Kemudian saya balik lagi untuk mengambil baju dan selimut. Nanti jika air naik lagi kalian ngungsi ke atas,” saya bilang.
Saya mau balek tidur di rumah, namun istri saya melarang ” JANGAN BANG” kata istri melarangnya.
“Seandainya saat itu saya tidur di rumah, sudah dipastikan hanyut bersama rumah kami yang tinggal puing,” sebutnya.
Adibo menceritakan, saat peristiwa banjir deras tersebut dalam gelap orang menjerit jerit minta tolong, dia gak tau lagi mau berbuat apa karena masing masing berupa menyelamatkan diri. Ada juga yang meninggal orang kita sini, perempuan terlepas dari tangan suaminya pas malam Jumat, itu lagi besar- besarnya air, ujarnya serius.
Dia dari sini berenang sampai ke pasar hitam ada mini market dan gang disitu air kencang. Tercampak istrinya lepas dari suaminya. Empat hari kemudian jasadnya ditemukan di Sungaimati Kampung Dalam di belakang kantor Polisi Militer (PM).
Makan Pisang Mentah
Mereka bertahan di bangunan bertingkat itu hingga 5 hari tanpa makanan. Pertolongan yang diharapkan pun tidak jua datang. air di sekeliling sudah seperti lautan. Untuk konsumsi minum beruntung ada hujan gerimis kita tampung. Jadi karena banyak anak- anak makanan dan beras tidak ada beberapa kepala keluarga masih bisa menyelamatkan kompor.
“Saya cari pisang berenang dalam air itu walupun mentah yang penting bisa untuk menahan lapar,” katanya.
Adibo (49) yang memiliki 3 orang anak dan seorang istri menunjuk bekas ketinggian air yang mencapai 5 meter
Ia menceritakan pada tahun 2006 rumahnya terdampak banjir juga. Namun tidak separah tahun 2025 ini
“Tahun 2006 saja tidak separah ini, sekarang ini dua kali lipat banjirnya,” terang Adibo
Menurutnya, air sungai meluap dari hulu akibat longsoran. Di hulu sungai ada dua cabang sungai kiri dan kanan, kalau yang kiri ke pelabuhan simpang kiri, sedangkan yang kanan ke Desa Babo hingga ke Besitang. Mereka tidak bisa kesana karena titi induknya yang di Lubuk Sidup ambruk, sebutnya.
Adibo sejak tahun 2003 tinggal di Kampung Bundar. Menurut informasi dari warga pada 996 banjir besar melanda kampung yang ditempati sebelumnya. Warga terdampak kemudian direlokasi ke Desa Bundar yang diberi nama perumahan banjir. Di tahun 2006 rumahnya juga kebanjiran, namun tidak separah 2025. Banjir kembali menerjang lebih dahsyat hingga rumah beserta isinya hanyut.
Ia hanya bisa pasrah melihat rumahnya hilang, dan mengungsi bersama warga lainnya. (OM/011)







