Headline

KPK Tetapkan Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap Tersangka

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap dalam kasus suap proyek senilai Rp567 juta di daerah tersebut

Tak hanya bupati, KPK juga menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka. Yakni Umar Ritonga selaku pihak swasta dan Effendy Syahputra selaku pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi (BKA).

“Setelah pemeriksaan KPK menaikkan statusnya dan menetapkan tiga orang tersangka,” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, dalam konferensi pers, Rabu (18/6/2018).

Diduga pemberian uang itu berasal dari fee proyek RSUD senilai Rp1,5 miliar pada Januari lalu. Angka Rp567 juta itu sebagai pemenuhan permintaan bupati senilai Rp3 miliar.

Dalam kasus ini, KPK menegaskan berhasil mengungkapkan pihaknya mengungkap modus baru dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Labuhanbatu tersebut.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menyebut, modus baru yang dilakukan para pelaku yaitu menitipkan uang dan kode proyek. “Jadi modus menyimpan uang melalui kode-kode proyek. Beberapa catatan baru untuk mengelabui penegak hukum di antaranya membuat kode rumit untuk mendapat proyek dan perusahaan mana yang mendapatkan jatah,” jelas Saut didampingi Juru Bicara KPK Febri Diansyah.

Diterangkan dia, kode ini merupakan kombinasi angka dan huruf yang jika dikombinasi dilihat secara kasat mata tidak ada terbaca sebagai sebuah daftar dan ‘jatah’ fee proyek di Labuhanbatu.

Kedua, sambungnya pihak penerima dan pemberi tidak berada di lokasi saat uang berpindah. “Dan uang ditarik di jam kantor oleh pihak yang disuruh pemberi di sebuah bankĀ  namun uang di dalam plastik kresek tersebut dititipkan pada petugas bank. Selang beberapa lama, pihak yang diutus menerima kemudian mengambil uang tersebut,” tegas dia.

Berbagai modus telah diungkap dalam sejumlah OTT, untuk itu KPK tidak akan bisa dikelabui dengan modus seperti itu. “Sehingga diharapkan kepada penyelenggara negara dan swasta lebih baik menghentikan praktik suap ini,” pintanya.

KPK sambung Saut, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah intens melaporkan laporan valid tentang dugaan akan terjadinya tindak pidana korupsi. “Setelah dicek di lapangan dan diteruskan ke proses penyidikan sejak April 2018 hingga OTT Selasa 17 Juli 2018,” kata dia.

Sampai saat ini, secara keseluruh KPK sudah mengamankan total 6 orang di Bandara Soekarno Hatta dan Kabupaten Labuhanbatu.

“Dua di bandara dan 4 di Labuhanbatu. Mereka adalah, Pangonal Harahap (PHH) bupati 2016-2021, Effendy Syahputra (ES) swasta pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi (BKA), HTR swasta, KP Kepala Dinas PUPR Labuhanbatu, H pegawai BPD Sumut, Umar Ritonga (UMR) orang kepercayaan bupati melarikan diri saat akan diamankan oleh tim KPK,” tambahnya.

Adapun kronologi dalam OTT tersebut yakni, pertama, Selasa 17 Juli KPK mengidentifikasi ada penerima uang dari swasta kepada PHH melalui beberapa pihak sebagai perantara. Diduga ES mengeluarkan cek Rp567 juta pada Selasa sore. ES menghubungi H untuk mencairkan cek itu dan menitipkan uang itu kepada H untuk diambil oleh UMR.

Selasa sore sesuai perintah ES UMR menuju BPD Sumut selanjutnya yang bersangkutan menghubungi HT orang kepercayaan MS untuk bertemu di BPD Sumut dengan modus menitipkan uang yang sudah disepakati sebelumnya.

Setelah AT melakukan penarikan sebesar Rp567 juta kemudian disetor sebesar Rp16 juta diambil untuk dirinya sendiri dan Rp61 juta ditransfer ke ES serta uang Rp500 juta di kresek dititipkan pada petugas bank lalu meninggalkan bank.

Sekira pukul 18.15 WIB, UMR kemudian datang ke bank dan mengambil uang Rp500 juta tersebut pada petugas bank dan membawa keluar uang tersebut. Di luar bank tim menghadang ketika UMR keluar dan menunjukkan tanda pengenal KPK. UMR melakukan perlawanan dan hampir menabrak pegawai KPK yang sedang bertugas saat itu.

Saat itu kondisi hujan dan sempat terjadi kejar-kejaran mobil tim KPK dan UMR hingga kemudian yang bersangkutan berpindah-pindah tempat sambil lari ke kebun sawit dan daerah rawa-rawa di sekitar lokasi.

Tim kemudian memutuskan mencari pihak lain yang juga perlu diamankan dalam kasus ini. Kemudian sekira pukul 19.28 WIB tim mengamankan sejumlah pihak mulai dari HTR. Kemudian pukul 19.57 tim mengamankan H di BPD Sumut. Lalu 22.54 tim mengamankan KP.

Di Jakarta tim mengamankan PHH bersama ajudan pukul 20.22 di Bandara Soekarno Hatta. Dan hari ini tim mengamankan ES di kediamannya di Labuhanbatu. Saat ini tim melakukan pemeriksaan awal di Polres Labuhanbatu. OD-01

Komentar Facebook

Artikel Terkait