MedanRagam

Pemerintah Masih Mengkapitalisasi Nilai-nilai Kesehatan

Medan-ORBIT : Memperingati Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-110 dan Milad PDUI ke-10, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengaku prihatin. Sebab, pemerintah justru mengkapitalisasikan nilai-nilai kesehatan tersebut.

Ketua IDI Sumut dr Edy Ardiansyah SpOG (K), didampingi Ketua IDI Medan dr Wijaya Juwarna, SpTHT-KL, Ketua PDUI Sumut dr Dedy Irawan Nasution mengatakan, dalam bahasa Indonesia, berbakti berarti memajukan bangsa. Dan ini telah dilakukan para dokter sejak tahun 1908.

“Dalam hal ini, bukan hanya kesehatan saja yang dimajukan para dokter, tetapi cara berpikirnya anak bangsa mencapai kemerdekaan, sehingga semua unsur dan aspek kehidupan dapat dirasakan merdeka, dan inilah bentuk kesehatan bangsa,” katanya, Selasa (12/6/2018)

Dikatakannya, dalam sejarahnya, perjuangan dokter ada turun naiknya. Pada zaman awal kemerdekaan, kesehatan itu diutamakan, sesuai yang ada, termasuk di UUD 1945, dan dijabarkan lagi GBHN. Namun, pada perkembangan sekarang, mencapai satu abad, mungkin banyak hal yang perlu ditolerir.

“Karena kita sudah melupakan bahwa nilai kesehatan bukan bagian swasta, bukan bagian kapitalis. Tetapi nilai-nilai kesehatan bagian dari tonggak perjuangan kemerdekaan ini. Salah satunya, mulai dari keamanan, pendidikan dan kesehatan, itu tidak bisa dilepas secara kapitalis,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya berharap kembali ke fitrahnya, agar para petinggi negara menyadari kesehatan bagian terpenting yang tidak kalahnya dari bagian lain pengisi pembangunan ini.

Sementara, Ketua IDI Medan dr Wijaya Juwarna SpTHT-KL menambahkan, bicara Hari Bhakti Dokter Indonesia tak lepas dari sejarah perjuangan para dokter pada 20 Mei 1908. Di Indonesia para dokter di tahun tersebut sudah peduli dengan masa depan bangsa. Tidak hanya dari sisi kesehatan fisik dan mental tetapi juga kesehatan bangsa.

“Semangat inilah yang perlu dihidupkan setiap tahunnya. Usia IDI belum sampai 100 tahun, namun perjuangan para dokter ini memberikan semangat perjuangan itu kepada IDI,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, jaminan kesehatan ini sudah berjalan, namun jika perlu dikritisi seharusnya pemerintah menyiapkan lebih kuat lagi fasilitas negara. Tetapi saat ini tonggak kekuatan justru di pihak swasta.

“Ini sangat membuat kita prihatin. Jika rumah sakit tidak didukung pengusaha dan cadangan dana yang besar, maka akan kolaps,” pungkasnya. Om-Nis

Komentar Facebook

Artikel Terkait