Program Budidaya Lalat Sukses Berkat Dukungan PT TPL

oleh -180 views

TOBA – Tim CD/CSR TPL memberikan bantuan ember untuk budidaya lalat Black Soldier Fly (BSF) kepada Kurniara Br Simanjuntak sebagai bagian dari program sosial terhadap masyarakat.

BSF dengan nama latin Hermetia illucens merupakan satu dari dari 800 jenis lalat yang ada dengan keunikan sebagai jenis yang tidak bersifat pathogen (agen pembawa penyakit).

Budidayanya juga cukup mudah dan menghasilkan, Kalau sudah jadi lalat, pembudidaya dapat memanen telurnya dalam jangka waktu sebulan dalam kisaran harga Rp10 ribu per 1gram (gr).

Siklus hidup BSF secara total hanya sekitar 45 hari, mulai dari telur sampai ke lalat dewasa. Seekor lalat betina biasanya menghasilkan 500-900 butir telur.

Sedangkan untuk mendapatkan 1 gram telur, membutuhkan setidaknya 14-30 BSF. Untuk 1 gram telur, akan mampu menghasilkan 3-4 kg maggot atau larva. Fase paling lama adalah larva, sekitar 18 hari.

Tidak hanya telur yang dipanen, melainkan juga maggot atau larva sebelum menjadi lalat tentara dewasa.

Maggot dapat dijual dalam kondisi hidup atau basah maupun kering atau dioven. Bila kering, dapat dikonsumsi, untuk yang basah dapat digunakan sebagai pakan ikan untuk mengganti pellet, karena maggot mengandung protein yang tinggi untuk di jadikan pakan ternak burung, ayam juga pakan berbagai jenis ikan.

Kurniara Simajuntak memulai kegiatan ini sekitar 6 bulan yang lalu, dengan menggunakan media sampah organik basah berupa sisa buah, sayuran dan makanan.

“Saat ini saya biasa pesankan agar limbah sayur dan buah tersebut ditaruh ke goni kepada para pedagang di pasar Porsea, daripada membusuk bisa dimanfaatkan,” Kata Kurniara.

Setelah lalat BSF bertelur di tumpukan kayu yang sudah di sediakan, telur BSF selanjutnya akan di pindahkan ke media dedak sebelum menetas yang biasanya 4 sampai 5 hari.

Setelah menetas dipindahkan ke media sampah organik basah lalu setelah 15 hari barulah magot tersebut bisa dipanen. Magot disebut juga pre-pupa yang perkembangbiakannya hanya 14 hari sebelum menjadi lalat, setelah bertelur lalat tersebut mati.

“Saat ini bisa menghasilkan magot lebih kurang 30 kilogram perhari dan saat hanya kami pakai untuk pakan ternak pribadi, beberapa tetangga sekitar ada juga yang membeli seharga Rp 15.000 per kilogramnya,” Kata Kurniara yang merupakan istri dari Johan manik yang juga merupakan karyawan PT TPL.

Kurniara simanjuntak mengucapkan terima kasih atas bantuan perlengkapan budidaya lalat BSF (ember) yang di berikan oleh PT TPL, dengan bantuan tersebut telah membantu usaha budidaya lalat BSFnya.

“Budidaya ini terhitung baru dikenal di area ini. TPL sebagai perusahaan dengan komitmennya terhadap masyarakat akan mendukung dan mendorong program-program sejenis yang nantinya diharapkan dapat menjadi program perintis bagi masyarakat yang lebih luas di area ini.” ungkap Ramida CD/CSR Manager PT TPL.

Reporter: Bernard Tampubolon