Rumah BAHARI Lapor Kasus Peredaran Arang Aceh ke Gakkum Sumut

oleh -250 views

MEDAN – Dugaan kasus pengrusakan hutan manggrove (bakau) di perbatasan Aceh Tamiang dan Langkat tepatnya di Kecamatan Pematang Jaya Kabupaten Langkat kembali menjadi sorotan.

Pasalnya hingga kini aktivitas pengrusakan dan perambahan hutan mangrove oleh oknum pengusaha arang masih berlangsung mulus.

Hutan bakau penyangga pantai semestinya sangatlah dilindungi ternyata malah dirusak secara besar-besaran oleh oknum pengusaha arang disana.

Meski diduga tak miliki izin usaha namun belum ada tindakan tegas dari Aparat Penegak Hukum (APH) terhadap oknum pengusaha arang tersebut.

Sehingga APH diminta segera menyelidiki dan mengusut tuntas kasus tersebut serta memberi efek jera kepada pelakunya.

Kasus itu bermula ketika adanya laporan dan pengaduan masyarakat yang mengatas namakan rumah BAHARI ke kantor Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) atau Balai Gakkum Wilayah Sumut Jalan Suka Eka, Suka Maju, STM Atas, Kota Medan pada 22 Juni 2020 lalu sesuai No 25xa/RB/LPB/H/IV/2020 perihal: peredaran arang bakau Aceh.

Dalam isi laporanya disampaikan bahwa aktivitas penebangan kayu bakau dan pembakaran di dapur arang masih terus berlangsung di perbatasan Aceh Tamiang dan Langkat tepatnya di Kecamatan Pematang Jaya Kabupaten Langkat.

Pelapor yang berjumlah 10 orang itu Sulaiman Sani dan Riki Ahmad misalnya menyampaikan bahwa para pengumpul arang dari masyarakat diduga melibatkan mantan pejabat publik dari Aceh inisial (ES) yang berdomisili di Kwala Simpang.

Selanjutnya inisial (S) yang berdomisili di Telaga Meku Aceh dan inisial (AA) di Kota Langsa dan inisial (A) di sungai yu Aceh Tamiang serta inisial (TI) di sungai yu Aceh Tamiang.

Mereka diduga para pengumpul arang dari masyarakat dari daerah Provinsi Aceh selama ini. Dimana sumber bahan baku yang di ambil oleh pemotong kayu di kawasan hutan produksi dan hutan lindung.

Bahkan selain memiliki dapur arang sendiri para pengusaha arang ini tersebut juga membiayai masyarakat yang mengumpulkan kayu bakau sebagai bahan arang.

Tak jarang para penebang liar yang berada di perbatasan Aceh Tamiang dan Langkat melakukan penebangan di kawasan hutan yang berada dalam wilayah Kecamatan Pematang Jaya Kabupaten Langkat.

“Sesuai dari hasil investigasi di lapangan bahwa peredaran arang dari Aceh timur, Langsa dan Aceh Tamiang antara 300 sampai 350 ton setiap malamnya dengan mengunakan kendaraan roda 4 dan 6. Sehingga kerugian negara ditaksir bisa sebesar Rp1,2 milyar per harinya akibat ulah adanya praktik pengusaha arang tersebut,” katanya.

Bahkan katanya arang tersebut ditampung diberbagai lokasi gudang-gudang yang ada di kota Medan sekitarnya dan Deli Serdang.

Menyikapi hal tersebut Kepala Seksi Balai Gakkum Wilayah Sumatera Seksi Wilayah I Medan, Haluanto Ginting mengatakan terkait laporan masyarakat BAHARI ke Balai Gakkum Wilayah Sumut akan segera ditindaklanjuti secepatnya.

“Segera kita tindak lanjuti terkait laporan masyarakat itu. Pokoknya saya akan kabari secepatnya jika kami turun ke lokasi. Menunggu jadwalnya saja,” kata Kepala Seksi Balai Gakkum Wilayah Sumatera Seksi Wilayah I Medan, Haluanto Ginting kepada orbitdigitaldaily.com, Rabu (16/9/2020).

Haluanto Ginting berjanji dan memastikan akan menuntaskan laporan masyarakat yang masuk ke Gakkum Sumut.

“Kami mohon bersabar saja. Pasti akan kita tindak lanjuti secepatnya,” ujarnya. (Red)