Sengketa Lahan di Saribu Raja, Tergugat Sebut Penggugat Korban Penipuan Jual Beli Tanah

oleh -525 views
Situasi sidang gugatan tanah di Desa Saribu Raja, Balige, Senin (22/6/2020). (orbitdigitaldaily.com/Bernard Tampubolon)

TOBA – Merasa tanah miliknya dijual di Janji Maria, Desa Saribu Raja, Kecamatan Balige membuat TS, warga Balige akhirnya membuat gugatan kepada para terduga penjual dan pembeli tanah tersebut ke Kejaksaan Negeri Balige pada 19 Agustus 2019 silam.

Dalam gugatan itu, TS, yang merupakan ahli waris dari pemilik pertama yang merupakan kakeknya, Guru Herman disebutkan bahwa Tergugat 1 adalah orang yang membeli tanah atau objek perkara dari Tergugat II, tanpa sepengetahuan Penggugat.

Setelah menjalani beberapa persidangan, akhirnya pada Senin (22/6/2020) sidang digelar dengan pemeriksaan para saksi dari Pihak Penggugat dan terjadilah tanya jawab antara Saksi dengan Kuasa Hukum Penggugat serta dengan para Hakim dan para Tergugat terkait lokasi, situasi, dan asal usul tanah tersebut.

Dalam keterangan yang disampaikan oleh B Tampubolon, Tergugat II kepada media saat diluar sidang bahwa tanah (yang menjadi objek perkara) tersebut dibeli oleh kakek Penggugat, Guru Herman dari penjual bernama Peter Tampubolon pada tahun 1958.

Setelah dilakukan penelitian lebih rinci oleh para Tergugat maka diperoleh hasil bahwa objek tersebut pada tahun 1958 masih merupakan bagian permukaan air Danau Toba. “Bagaimana mungkin mereka transaksi jual beli lahan air Danau Toba?” sebut B Tampubolon.

Bahkan, sebutnya lagi, saat dirinya menjabat Kepala Desa Saribu Raja pada tahun 2005 keadaan objek perkara masih dipenuhi air Danau Toba. “Bahkan objek perkara saat itu dijadikan pelabuhan untuk tangkahan batu cadas yang dibawa kapal, yang artinya lahan itu masih penuh air,” sambungnya.

Selanjutnya, B Tampubolon menyatakan bahwa Kakek Tergugat dalam kaus ini sebenarnya adalah merupakan korban penipuan Penjual tanah pada tahun 1958 itu. “Pembeli tidak memahami dan menguasai situasi dan kondisi tanah yang dijual. Akhirnya, pembeli tertipu! Danau Toba kok dibeli?” ulasnya.

Selain itu, tambahnya, tanah yang disebutkan dalam surat jual beli 1958 itu yang diajukan Penggugat, yang sebelumnya lokasi tersebut adalah air danau, namun  belakangan ini memang sudah menjadi daratan, batas batas tanah yang diajukan itu tidak sesuai fakta sebab batas objek perkara tersebut tidak benar sama sekali.

“Perlu diketahui bahwa tanah darat akibat surutnya air Danau Toba, sesuai aturan adat disini menjadi kepunyaan bersama Keturunan Saribu Raja, dan tidak bisa ada yang mengklaim sebagai milik pribadi sebelum ada pembagian. Nah jelas, tanah itu belum dilakukan pembagian hingga saat ini. Jadi silakan gugat si Penjual pada 1958 itu,” ujar B Tampubolon.

“Penggugat juga salah menghadirkan saksi, sebab saksi seperti op Nopa Gultom itu baru tinggal disini sejak tahun 1984, bagaimana dia tau sejarah tentang tanah disini? Makanya tadi Hakim bingung mendengar keterangan saksi yang berbelit belit, dan selalu merujuk kepada “KATANYA, KATA SI ANU”!” sebutnya agak jengkel.

Di akhir keterangannya, B Tampubolon mengatakan bahwa baru baru ini, para Keturunan Op Jojor yang merupakan moyang Penjual objek perkara pada Minggu (14 Juni 2020) telah melaksanakan rapat dan membahas terkait kondisi objek perkara pada tahun 1958 di Kantor Kepala Desa Saribu Raja, Balige.

“Dan mereka mendapat kesimpulan bahwa objek tanah perkara tersebut pada tahun 1958 masih dalam keadaan dipenuhi air Danau Toba alias bukan tanah darat. Jadi tak mungkin Pembeli membeli air Danau Toba, ” jelasnya.

Dalam kesempatan itu juga, B Tampubolon dan beberapa pihak tergugat lainnya sangat menyayangkan sikap TS, yang melakukan gugatan tanpa terlebih dahulu melakukan cek dan ricek asal usul dan kondisi objek tanah tersebut dan tidak mempelajari surat jual beli tersebut.

“Saya berani simpulkan, bahwa kakeknya adalah Korban Penipuan Jual Beli Tanah yang sebenarnya saat itu kondisinya adalah air Danau Toba,” pungkasnya mengakhiri.

Reporter: Bernard Tampubolon