Suka Ditengah Duka, Terimakasih Garuda Muda

oleh -409 views

Laporan: Agung Harahap

ORBIT: Dahaga juara sepakbola dialami hampir seluruh masyarakat Indonesia akhirnya terjawab dengan berhasilnya Timnas Indonesia U16 menjuarai Piala AFF 2018. Tim nasional kita mengalahkan Thailand dengan skor 4-3 (1-1).

Indonesia adalah salah satu negara yang masyarakatnya tercatat sebagai penggila bola di dunia. Identitas tersebut tidak bersamaan dengan prestasi Tim Nasionalnya di ajang internasional.

Secerca harapan sempat muncul di tahun 2013 kala Tim Nasional Indonesia U19 asuhan Indra Sjafri berhasil menjuarai Piala AFF. Namun, keindahan itu tak berlangsung lama. Permasalahan demi permasalahan yang terus muncul di dalam tubuh PSSI membuat pola pembinaan sepakbola usia muda kembali berantakan.

Suka ditengah duka
Kegemilangan permainan Tim Nasional Indonesia U16 asuhan Fahri Husaini di ajang turnamen Piala AFF U16 2018 kembali membangkitkan gelora semangat para penggila bola di seluruh tanah air.

Kebangkitan semangat itu seharusnya mampu mengobati duka dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gempa berkekuatan 7 Skala Richter dan berpotensi Tsunami membuat  ribuan rumah hancur lebur. Tuhan seperti membagi perasaan rakyat Indonesia, antara suka dan duka.

Sepakbola yang disebut sebagai the beautiful of game ini kembali menunjukkan kekuatannya dengan mampu menjadi sarana penghibur setelah Tim Nasional U16 berhasil melaju ke partai Final setelah menundukkan musuh bebuyutan Malaysia di partai semifinal.

Di parti Final, Indonesia berhadapan dengan tim paling tangguh di Asia Tenggara, Thailand di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Tempat yang sama ketika Evan Dimas dan kawan – kawan menjuarai Piala AFF U19 pada 2013 lalu.

Di awal pertandingan, Indonesia sempat berada dalam tekanan. Pressure ketat yang dilakukan Tim Gajah Putih di seperempat lapangan cukup menyulitkan pergerakan pemain – pemain tengah Garuda Muda.

Peluang emas sempat tercipta di Menit ke 13 lewat aksi Bagus Kahfi yang mencoba memanfaatkan umpan terobosan Andre Oktaviansyah, namun masih melebar di sisi gawang Thailand.

Di akhir babak pertama Indonesia berhasil memecah kebuntuan lewat Fajar Fathur Rahman. Berawal dari umpan panjang dari tengah lapangan. Fajar yang masuk dari sisi kanan melakukan aksi tipuan terhadap kiper Anuchid Taweesri dengan melesakkan tendangan ke tiang jauh. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua tensi pertandingan sedikit naik. Jual beli serangan diperagakan oleh kedua tim. Namun Thailand berhasil menyamakan kedudukan di menit ke 71 lewat gol Apidet Janngam setelah menerima umpan silang yang dikirimkan dari sisi lain kotak penalti dan berhasil lolos dari jebakan offside. Skor 1-1 bertahan hingga akhir pertandingan.

Indonesia berhasil memastikan sebagai pemegang tropi lewat adu pinalti yang berakhir dengan skor 4-3 setelah Ernando Ari Sutaryadi mampu menggagalkan dua tendangan pemain Thailand.

Sepakboka memang selalu punya cara untuk meneteskan airmata. Selalu bisa menjadi obat dikala duka. Menjadi hiburan yang patut dibanggakan ketika perdebatan kontestasi politik yang selalu dipertontonkan. Indonesia kembali membuktikan bahwa untuk menjadi juara tidak melulu diperoleh oleh tim yang bertabur bintang. Namun dengan usaha, kerja keras, beserta doa yang dipercaya. Garuda muda kembali berjaya, seluruh rakyat Indonesia tentu berharap bahwa suatu saat lewat kaki – kaki merekalah kita mampu merebut tropi piala dunia.