Terapkan Pola Lama untuk Tanam Padi, Distan Tapsel: Tak Lagi Disemai

Bismark menambahkan, dengan adanya alat-alat pertanian yang modern dan telah diterima oleh para petani melalui kelompok tani masing-masing di desanya berupa handtraktor, semprot, mesin pemanen, dan alat pertanian lainnya.

Maka lahan persawahan diharapkan semakin bertambah dan bila perlu tanah sebagai pembatas dari lahan ke lahan(Gadubatangi) yang sebagian berukuran 1 meter dengan panjang tak terhingga di tiadakan dan dijadikan tempat menanam padi sehingga lahan itu bertambah dengan sendirinya dan hasil panen pun secara otomatis bertambah.

Dengan ditiadakannya Gadubatangi tersebut maka alat-alat pertanian dapat diberdayakan dengan sempurna dan tidak lagi menggunakan pengolahan secara manual. Karena sepanjang 2015 hingga saat ini telah banyak disalurkan alat-alat pertanian modern hampir merata di seluruh kecamatan yang ada di Tapanuli Selatan.

Dengan hal tersebut tidak ada alasan petani lagi untuk bermalas-malasan dan membiarkan lahan mereka tidak dikelola, ataupun lahan tidur tersebut diberdayakan menjadi lahan pertanian yang produktif. Jadi saat ini Dinas pertanian Tapsel menerapkan pola pertanaman padi yang lama dengan menggunakan sarana dan prasarana (Alsintan) yang modern.

Iswal Parningotan mengatakan, telah tersalur bibit padi dengan Varietas Inpari 42 kepada kelompok tani di tiga kecamatan, 16 kelompok tani di Kecamatan Batang Angkola.

Di sisi lain Kabid Sarana dan Prasarana Muhammad Taufik Batubara menjelaskan dengan menggunakan alsintan maka akan dapat mengefesiensikan tenaga kerja ataupun mengurangi biaya untuk tenaga kerja dalam hal pengelolaan persawahan yang juga tujuannya berdampak lebih meningkatkan hasil produksi padi.

“Itulah gunanya alsintan yang telah kita salurkan kepada kelompok tani seluruh Tapanuli Selatan, hampir merata setiap desa saat ini menggunakan alsintan tersebut. Kata Taufik Batubara,” pungkasnya. Od-Amr