Terkait Jeritan Warga Ranto Panjang, Bupati Madina Langsung Respons

Terkait Jeritan Warga Ranto Panjang, Bupati Madina Langsung Respons
Satu satunya jalur penting melalui jembatan gantung yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan

MADINA | Terkait jeritan warga dan tekanan publik akhirnya membuahkan respons. Bupati Saipollah Nasution bersama Camat Rantobaek Sopian memberikan atensi serius atas keluhan warga Desa Ranto Panjang, Kecamatan Rantobaek, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, yang sebelumnya disuarakan oleh Harian Orbit Group.

Menanggapi pemberitaan yang telah terbit pada 30 Maret 2026 di Harian Orbit Group dan media online Komisioner, Bupati Mandailing Natal memberikan respons singkat namun tegas.

“Terima kasih informasinya, kami akan atensi,” jawab bupati dalam statusnya.

Sementara itu, Camat Rantobaek memberikan penjelasan lebih konkret.

Berita Terkait : Negara Seolah Absen ! 2000 Jiwa di Ranto Panjang Terisolasi, Jalan Hancur dan Jembatan Gantung Menunggu Korban

“Terima kasih, akan kita bawa masalah ini ke acara Musrenbang Kabupaten hari Senin depan yang juga dihadiri Gubernur Sumut,” tulisnya.

Menanggapi respons tersebut, pemerintah desa, BPD, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, serta ibu-ibu PKK menyampaikan apresiasi dan harapan besar.

Kepala Desa Kari Muda Nasution bersama Untung Pulungan menyampaikan terima kasih kepada Bapak Bupati dan Bapak Camat. Semoga sehat dan sukses selalu. Minal Aidin Walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, sebut mereka.

Desa Ranto Panjang merupakan hasil pemekaran dari Desa Simpang Durian, Kecamatan Linggabayu kembali menjadi sorotan akibat kondisi infrastruktur yang memprihatinkan, dan dinilai mengancam keselamatan hampir 2.000 jiwa penduduknya.

Ketimpangan Pembangunan

Dalam pemberitaan ditulis “Negara Seolah Absen” di Ranto Panjang.

Potret ketimpangan pembangunan tampak nyata di desa ini. Jalan utama sepanjang ±3 kilometer masih berupa pengerasan sejak puluhan tahun lalu, tepatnya sejak ditinggalkan perusahaan kayu log PT Gruti.

Hingga kini, belum ada sentuhan pembangunan hotmix. Lebih memprihatinkan, Sungai Batang Bangko yang membelah pemukiman warga hanya dihubungkan oleh jembatan gantung sederhana.

Jembatan kayu lama yang sebelumnya dibangun perusahaan kini telah lapuk dimakan usia.

Jembatan gantung tersebut menjadi satu-satunya akses vital bagi warga. Jalur distribusi hasil panen sawit, akses utama anak-anak menuju sekolah, penghubung antarwilayah masyarakat.

Warga menilai kondisi ini sangat berbahaya dan sewaktu-waktu bisa menimbulkan korban.

Secara swadaya, warga telah berulang kali memperbaiki jalan dan jembatan. Namun keterbatasan anggaran dan teknis membuat perbaikan tidak bertahan lama.

Pemerintah desa bersama BPD juga telah berkali-kali mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah hingga pihak investor.

Salah seorang warga, Untung Pulungan, menyuarakan kekecewaannya.

“Kami mohon agar suara warga didengar. Ini bukan sekadar jalan, ini urat nadi kehidupan kami,” kata Untung mewakili terkait jeritan warga sekitar.

Bagi warga Ranto Panjang, pembangunan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut keselamatan, ekonomi, dan masa depan generasi mereka.

Reporter : OD 34

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *