Angkot Berisi Santri Terjun ke Jurang di Madina

Angkutan kota yang membawa rombongan santri terbalik setelah terjun ke jurang di Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Senin 22/6. Ant

MADINA | Satu unit angkutan kota (angkot) yang membawa rombongan santri mengalami kecelakaan tunggal dan terjun ke jurang sedalam sekitar 50 meter di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Senin (22/6).

Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Umum KM 9-10 jurusan Panyabungan – Kotanopan, tepatnya di Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, sekitar pukul 13.00 WIB.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Mandailing Natal, Iptu Sumardi, mengatakan kecelakaan bermula saat kendaraan mencoba mendahului kendaraan di depannya di ruas jalan menikung ke kiri.

“Dari arah berlawanan datang kendaraan lain sehingga sopir berupaya menghindar, namun kehilangan kendali dan terjatuh ke jurang di sisi kiri jalan,” kata Sumardi, Selasa.

Kendaraan yang mengalami kecelakaan merupakan angkot 02 dengan nomor polisi BB 1918 HB yang mengangkut 14 penumpang, sebagian besar santri Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru.

Sopir angkot diketahui bernama Maruli Cahyono (34), warga Desa Mompang Julu, Kecamatan Panyabungan Utara.

Akibat kejadian tersebut, kendaraan mengalami kerusakan berat pada bagian depan, termasuk kaca depan pecah dan bodi ringsek. Empat penumpang dilaporkan mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan di RSUD Panyabungan.

Salah seorang penumpang, Abdul Bais (15), menyebutkan kecelakaan terjadi saat angkot berusaha menyalip truk, namun kendaraan diduga kehilangan cengkeraman sehingga tergelincir.

“Angkot sempat oleng sebelum akhirnya jatuh ke bawah,” ujarnya.

Adapun korban luka dalam peristiwa tersebut yakni pengemudi Maruli Cahyono yang mengalami luka robek pada wajah serta lecet pada bahu dan lengan, serta tiga penumpang masing-masing Muhammad Ariansyah (15), Rahmad Kurniawan (15), dan Abdul Bais (15) yang mengalami luka ringan.

Peristiwa ini kembali memicu perhatian publik terhadap keselamatan transportasi angkutan umum di wilayah tersebut. Sejumlah warga menilai perilaku sopir angkot yang kerap melaju dengan kecepatan tinggi masih sering ditemukan di lapangan.

Selain itu, praktik mengangkut penumpang melebihi kapasitas, termasuk penumpang yang duduk di atas kendaraan atau bergelantungan di pintu, juga masih terjadi, khususnya di jalur padat pelajar dan santri.

Kondisi ini dinilai berisiko tinggi dan membutuhkan pengawasan serta penertiban lebih ketat dari pihak terkait guna mencegah kejadian serupa terulang. Ant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *