MEDAN | Seorang aktivis mahasiswa Tapanuli Utara, Belaster Bolas Tua Purba merasa prihatin mendalam atas kondisi alam melanda sejumlah daerah di Kabupaten Tapanuli Utara mengalami kekeringan.
Kondisi kemarau berujung krisis air berkepanjangan sejak dua bulan terakhir melanda beberapa daerah di Tapanuli Utara, yaitu Kecamatan Pagaran, Siborong borong, Tarutung, Adiankoting, Sipoholon dan Kecamatan Muara.
Meski dilanda musim kemarau berkepanjangan, kata Belaster Purba, tetapi pemerintah daerah belum melakukan upaya dan solusi bagi masyarakat yang mayoritas bergantung hidup bertani.
”Kemarau panjang menyebabkan krisis air melanda beberapa daerah telah berdampak serius terhadap pertanian masyarakat, khususnya di beberapa kecamatan yang hingga kini hampir tidak pernah diguyur hujan”kata Belaster Purba kepada orbitdigitaldaily.com, Sabtu(23/8/2025).
Aktivis kampus yang pernah mengguncang jagat raya karena dugaan kasus asusila oknum pejabat Pemkab Tapanuli Utara ini meminta pemerintah daerah tidak diam berpangku tangan dan duduk manis menonton derita rakyat.
”Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan karena lebih dua bulan curah hujan tidak turun. Debit air semakin berkurang dan lahan pertanian mulai kering, dan produktivitas hasil tani terancam gagal. Kondisi krisis ini akan mempengaruhi program ketahanan pangan dan kesejahteraan petani kita”ujarnya.
Untuk itu, Ia meminta pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara bergerak cepat mencari solusi dengan memanfaatkan perangkat dinas terkait, mulai PDAM, Dinas Pemadam Kebakaran hingga BNPB menyalurkan bantuan air gratis ke daerah terdampak.
“Petani bukan hanya tulang punggung perekonomian daerah, tetapi juga penjaga kehidupan masyarakat. Bila pertanian mereka gagal, maka dampaknya akan dirasakan seluruh lapisan masyarakat “terangnya.
Belaster Bolas Tua Purba berharap mobil tangki PDAM, Damkar maupun BNPB tidak hanya digunakan untuk mengatasi kebutuhan konsumsi tetapi menyelamatkan lahan kian kritis.
Menurutnya pemerintah memiliki tanggung jawab moral secara konstitusional, yaitu memastikan keberlangsungan hidup masyarakat. Tidak boleh ada pembiaran krisis air yang kini semakin meluas.
“Krisis air ini bukan hanya soal pertanian, tetapi keberlangsungan hidup masyarakat Taput secara keseluruhan. Saya sebagai mahasiswa, tidak ingin melihat pemerintah lalai terhadap jeritan rakyat. Saatnya hadir untuk rakyat,” tegasnya. (OM – 09)
Aktivis Mahasiswa Minta Pemkab Taput Peduli Atasi Krisis Air Lahan Pertanian







