LABUSEL | Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI, terus melakukan sosialisasi program Bangga Kencana, dalam hal ini Keluarga Berkualitas Indonesia Emas.
Kali ini, Kemendukbangga atau yang lebih sering kita dengar BKKBN menggelar sosialisasi program Bangga Kencana bersama mitra kerja di Kecamatan Kota Pinang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Prov. Sumatera Utara, Sabtu, (19/7/2025).
Acara sosialisasi itu di ikuti ratusan peserta, meliputi masyarakat sekitar, Aparat Desa/Kelurahan, Tokoh Masyarakat Kecamatan dan Tokoh Agama.
Acara ini juga mendatangkan beberapa narasumber utama, yaitu Anggota Komisi IX DPR RI Sihar P.H Sitorus, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara Fatmawati, ST, M.Eng, dan Kabid KB Dinas P3AP2KB Kabupaten Labuhanbatu Selatan Susi Nurhayati.
Kegiatan diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars KB. Selanjutnya, sosialiasi diisi oleh para pemateri atau narasumber tentang program Bangga Kencana. Diantaranya, Anggota Komisi IX DPR RI Sihar Sitorus.
Ia mengatakan melalui BKKBN ini topiknya Keluarga Indonesia Emas. Dalam masa saat ini kualitas itu penting, dan ini berkaitan dengan ekonomi.
“Kita ingin memberikan pendidikan yang baik untuk keluarga kita maupun Kesehatan. Kualitas anak juga sangat penting, kita sebagai orang tua mengharapkan anak kita tumbuh dengan baik dan sehat serta berkualitas. Dengan itu kita perlu menjaga dan memberikan asupan gizi anak yang baik. Tentunya dalam hal ini peran kami di Komisi IX, memberikan pendamping kepada ibu hamil melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK),” kata Sihar Sitorus.
Sedangkan, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara Fatmawati, ST, M.Eng menerangkan, Program Quick Win Kemendukbangga yaitu GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia). Fenomena fatherless ini menjadi perhatian karena dampaknya yang signifikan terhadap perkembangan anak.
Ia menjelaskan bahwa data terbaru menunjukkan bahwa 20,9 persen remaja Indonesia kehilangan sosok ayah. Bukan hanya memberikan nafkah tapi seorang anak membutuhkan kehadiran sosok ayah, bagaimana bercengkrama anak dengan ayah. Adanya fatherless mengakibatkan kenakalan pada remaja.
“Kemudian ada TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak). Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pengasuh, memantau tumbuh kembang anak, dan melibatkan orang tua dalam pengasuhan. Kemudian ada SIDAYA (Lansia Berdaya). Sekolah lansia untuk memperdayakan lansia, lansia belajar dalam kelas sampai dengan 10 kali pertemuan dan nantinya akan diwisuda. Tujuan dari SIDAYA bagaimana lansia ini menjadi tangguh dan berdaya, bagaimana lansia ini bisa mandiri dan tidak bergantung pada keluarga sehingga dapat mencapai bonus demografi,” ujarnya.
Menurutnya stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Kalau calon ibu memiliki lingkar lengan di bawah 21cm berpotensi melahirkan anak stunting. (Red)







