TAPANULI TENGAH | Bencana banjir dan tanah longsor memakan korban jiwa. Empat warga Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut, Selasa (25/11/2025).
Para korban sudah dievakuasi pada Selasa pagi, ujar Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu.
“Jaringan listrik juga bermasalah,” kata Masinton saat dikonfirmasi.
Hujan deras sejak Minggu, (23/11/2025) mengakibatkan bencana banjir dan longsor di berbagai lokasi di Tapteng serta sebagian wilayah lainnya di Provinsi Sumatera Utara.
Sementara di daerah lain memasuki masa siaga bencana, kata laporan terbaru Pusat Pengendalian Operasi BPBD Sumut per 25 November.
Mulai dari pesisir barat seperti Sibolga dan Tapanuli Tengah hingga wilayah kepulauan seperti Nias Selatan dan Gunungsitoli, dampak banjir dan tanah longsor terjadi secara luas.
Banjir tercatat sebagai bencana yang cakupan paling luas. Di Tapanuli Tengah, 1.902 kepala keluarga terdampak di tujuh kecamatan: Pandan, Sarudik, Badiri, Barus, Kolang, Tukka, dan Lumut. Desa Lumut Maju masih terendam, sementara wilayah lain mulai berangsur normal. Di Kecamatan Tukka, 10 KK atau 45 jiwa masih mengungsi di sebuah gereja.
Sementara di Mandailing Natal, dua banjir besar terjadi hampir bersamaan. Di Muara Batang Gadis, luapan air setinggi 1,5 meter merendam 70 rumah dan berdampak pada 400 jiwa. Di Siabu, luapan Sungai Aek Badan merusak 40 hektar lahan pertanian serta merobohkan dek penahan sungai, meningkatkan risiko banjir susulan.
“Pemerintah daerah telah melakukan penanganan awal, mulai dari assessment, evakuasi hingga pengamanan harta benda,” kata Kepala Bidang Penanganan dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, saat dikonfirmasi. (OM/011)







