Harga Emas Antam Naik Rp775 ribu per Gram

oleh -58 views
HARGA EMAS MELONJAK

JAKARTA – Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) berada di posisi Rp775 ribu per gram pada Rabu (4/9).

Setidaknya ada pelonjakan Rp10 ribu dari Rp765 ribu pada Selasa (3/9).

Begitu pula dengan harga pembelian kembali (buyback) yang naik Rp8.000 dari Rp691 ribu per gram menjadi Rp699 ribu per gram pada hari ini.

Begitu pula dengan harga pembelian kembali (buyback) yang naik Rp8.000 dari Rp691 ribu per gram menjadi Rp699 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp412 ribu, 2 gram Rp1,49 juta, 3 gram Rp2,22 juta, 5 gram Rp3,69 juta, 10 gram Rp7,32 juta, 25 gram Rp18,2 juta, dan 50 gram Rp36,33 juta.

Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp72,6 juta, 250 gram Rp181,25 juta, 500 gram Rp362,3 juta, dan 1 kilogram Rp724,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sebaliknya, harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX justru terkoreksi 0,3 persen menjadi US$1.551,2 per troy ons.

Begitu pula dengan harga emas di perdagangan spot melemah 0,29 persen ke posisi US$1.542,64 per troy ons.

Analis Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan harga emas internasional berpeluang naik, meski tengah sedikit terkoreksi.

Hal ini yang turut membuat harga emas di dalam negeri justru meningkat.

Pasalnya, sambung Suluh, sentimen global yang datang memang mendukung penguatan harga emas ke depan.

Misalnya, rilis data indeks manufaktur Amerika Serikat yang diluar dugaan, yakni hanya menembus angka 49 yang menandakan tidak ada ekspansi di industri Negeri Paman Sam.

“Ketika data tersebut rilis dan tidak sesuai dengan harapan, maka dolar AS akan melemah dan harga emas melambung tinggi ke level spot US$1.549,8 per troy ons,” katanya seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Lebih lanjut, rilis indeks tersebut sangat mungkin berkembang menjadi sentimen kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.

Hal ini, katanya, juga bisa memicu munculnya ekspektasi penurunan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve pada pertengahan bulan ini.

Faktor lain, kata Suluh, lantaran China sudah menyatakan secara resmi keberatannya akan berbagai kebijakan tarif bea masuk impor yang dipasang AS ke Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO). (*)