Bergantung Musim
Menurut Asisten Deputi (Asdep) Pangan Kemenko Perekonomian, Muhammad Saifulloh, penyebab mahalnya harga jagung di Indonesia karena penanaman jagung tergantung musim, yaitu penanaman terbesar adalah ketika musim hujan.
Selain itu, rantai pasar jagung juga masih panjang, dan harga pasar lebih banyak ditentukan oleh peran pedagang pengumpil.
Menurut dia, jika dibandingkan, harga jagung tingkat petani dan internasional, maka Indonesia lebih tinggi daripada Amerika Serikat (AS), Argentina, dan Brazil per Maret 2021. Kebutuhan jagung per bulan relatif sama sehingga harga turun ketika pasokan berlebih dan harga naik ketika pasokan berkurang.
“Kenaikan harga jagung internasional pada Oktober 2020 hingga April 2021 sekitar 36%. Makanya perlu dirumuskan mekanisme pengelolaan stok jagung,” ucap Saifulloh.
Dia mengkritisi bahwa belum ada mekanisme cadangan jagung pemerintah sehingga rawan permasalahan muncul di tingkat petani ketika harga jatuh, dan di tingkat pengguna terutama peternak layer ketika harga jagung naik.
“Maka dari itu, perlu ada kebijakan pemanfaatan sistem resi gudang (SRG) untuk jagung. Kemendag perlu berkoordinasi dengan Pemda untuk pengembangan gudang SRG di lokasi yang berdekatan dengan sentra penanaman jagumg. (Karyadi Bakat)







