Ini Tanggapan KIPAS, Terhadap Penanganan Pasien COVID-19 Di Aceh Singkil

oleh -145 views
Inilah rumah karantina untuk pasien COVID-19 di Aceh Singkil yang dipersiapkan Pemkab dan terlihat masih kosong

ACEH SINGKIL- Penanganan pasien COVID-19 di Aceh Singkil, terkesan belum sesuai prosedur. Padahal aturan tersebut sudah maksimal ditetapkan oleh Pemerintah. Dan harus dilaksanakan sesuai Prosedur Tetap (Protap) penanganan kesehatan COVID-19.


Namun apakah hal ini sudah dipahami dan dilaksanakan sesuai aturan didaerah kita. Kata Presiden Direktur (Presdir) Komite Independen Peduli Aceh Singkil (KIPAS) H M Azmi, Kamis (13/8/2020) di Singkil saat berbincang dengan sejumlah wartawan dan pemerhati kesehatan di Singkil.
Disebutkannya, selama penyebaran COVID-19 sejak beberapa bulan terakhir, Aceh Singkil mampu mempertahankan status sebagai zona hijau.
Namun, saat ini setelah dua dokter terpapar dan dinyatakan positif, menyebabkan masyarakat Aceh Singkil panik dan dinyatakan menjadi zona merah.


Menyusul dua pegawai Aceh Singkil, AZ dan S berdasarkan hasil swab, namun penanganannya masih terkesan belum sesuai prosedur tetap (Protap) untuk penanganan kesehatan COVID-19, sebut Azmi.
Seperti salah satu pasien yang langsung dihubungi Azmi melalui HP nya dihadapan wartawan. AZ mengaku sudah dinyatakan positif bersama istrinya melalui hasil swab.


Sementara empat anaknya masih menunggu hasil swab. Dan seorang anak angkatnya sudah dinyatakan negatif dari COVID-19.


Sayangnya, saat ini empat orang anak dan seorang anak angkat, yang dinyatakan negatif COVID-19 itu, masih tinggal dalam satu rumah dengan AZ dan istrinya. “Ya kami tinggal dalam satu rumah, saya satu kamar dengan istri dan empat orang anak beda kamar yang menunggu hasil swab. Dan seorang anak yang negatif juga dikamar sendiri,” ucap AZ dari sambungan Handphonenya saat dihubungi langsung Azmi.
Kata Azmi, dari keterangan AZ rumah nya juga sudah dilakukan penyemprotan Disinfektan.


Termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah memberikan jatah kebutuhan pokok, seperti beras, air mineral, mie instan serta suplemen dan obat-obatan. “Baru Senin kemarin disemprot disinfektan dan dapat jatah kebutuhan pokok,” sebut Azmi.


Azmi juga mengakui, dirinya sudah dinyatakan negatif melalui hasil swab. Pasca anak menantunya Dr. RK yang dinyatakan positif dari hasil Swab, tim kesehatan langsung melakukan swab keluarganya dan semprot disinfektan, di kediamannya di Pulo Sarok Kecamatan Singkil.


Ada 80 orang menjalani swab, 25 orang diantaranya keluarga saya. Dari swab tersebut AZ dan S dinyatakan positif. “Untuk penanganan ini saya berikan apresiasi untuk pemerintah, dengan cepat, dan langsung melakukan swab serta menyemprot di 6 titik rumah-rumah, terhadap orang-orang yang kontak langsung dengan dua dokter RK dan G,” ucap Azmi


“Penanganan pasien COVID-19 seharusnya di isolasi, meski Orang Tanpa Gejala (OTG) namun sudah dinyatakan positif COVID-19 dan harus dipisahkan dari anak-anaknya maupun orang lain sesuai SOP. Dan pemerintah melalui tim penanganan COVID-19, harus menanggung jawabi kebutuhannya. Dan harus memutus mata rantai dari orang-orang lain.

Karena pasien COVID-19 tidak mungkin beraktifitas,” sebut Azmi.
Ruang isolasi juga harus diperiksa layak atau tidaknya, dan harus terus mendapat pengawasan tim kesehatan, tambahnya.


Menyinggung anggaran penanganan COVID-19, Azmi berpesan, KIPAS akan selalu memantau dan mengawasi penggunaannya. Sebab penyelewengan penggunaan anggaran COVID-19 ini ancamannya hukuman mati, tegasnya.

Reporter : Saleh