Aceh  

Menelusuri Peradaban Kota Hilang, Singkil Lama dan Buya Syekh Abdul Razaq

Lokasi Makam Syekh Abdul Razaq di Singkil Lama. (orbitdigitaldaily.com/Saleh)

Sementara sumber lain yang dikutip dari tulisan Muhajir Al Fairusy peneliti sejarah dan budaya (Acehtrend), yang mengamati kaligrafi di batu nisan makam itu, bertuliskan “almarhum Abdurrahib (Rajab) bin Abdullah, berpulang pada 3 Zulqaidah 1313 H.” (16 April 1896 M).

Hal ini memiliki arti, yang diduga kuat, pemiliki makam adalah penganut Tarekat Syattariah dan seorang guru agama Islam di sana.

Sumber lainnya yang belum diketahui persis kebenarannya, Singkil Lama ditinggalkan masyarakat ke lokasi sekarang sekitar tahun 1.869 Masehi, akibat disapu Galoro menyebabkan daratan menjadi turun.

“Setelah kami turun langsung ke lokasi bekas Kota Singkil Lama dan Makam Syekh Abdul Razaq, ada bukti-bukti yang menunjukkan bekas peradaban peninggalan sejarah. Ada pecahan piring kaca, bata dan pondasi bekas bangunan rumah lama, namun sayangnya lesung batu yang ada disebutkan bukti sejarah lainnya belum berhasil ditemukan berhubung cuaca mulai gelap dan hujan pun mulai turun,” ucapnya.

Sehingga dengan dilakukannya identifikasi ini kedepan bisa menjadikan  Makam tersebut menjadi situs sejarah dan dikeluarkan SK penetapan sebagai cagar budaya oleh Bupati Aceh Singkil ke tingkat nasional, ucap Najur sehingga harapannya bisa dikucurkan anggaran untuk pemugaran makam tersebut.

“Dan masih ada situs sejarah lainnya yang akan dilakukan identifikasi,” beber Najur.

Sementara itu saksi hidup yang disebutkan sebagai keturunan ke-4 Syekh Abdul Razaq, yakni Siti Nurbainah yang berusia sekitar 99 tahun menyebutkan, ayahnya Asnanuddin merupakan cucu dari Syekh Abdul Razaq.

Urutannya Syekh Abdul Rajaq memiliki anak yang dikenal dulu sebagai Imam Jalaludin. Kemudian Imam Jalaludin memiliki anak Asnanuddin (Imam Anan) yang merupakan ayah Siti Nurbainah.

Disebutkannya, Asnanuddin memiliki tiga orang anak. Yakni Muktarudin, Nasrudin dan dirinya Siti Nurbainah. Sementara Muktarudin dan Nasrudin telah meninggal dunia.

Dengan dialeg bahasa Kampung Singkil, Uci Siti Nurbainah mengaku tidak tahu berapa tahun kelahiran maupun umurnya saat ini.

“Tidak tahu saya tahun berapa lahir, yang jelas saat perang Belanda dan Jepang saya sudah gadis,” ucap Uci Siti Nurbainah.