Mengubah Stigma, Bank Sampah Berbasis GEDSI Libatkan Kelompok Marginal di Desa Bandar Khalipah

Ketua Program Desa Binaan Bank Sampah USU 2025, Rosmalinda. (Foto/Dok.Putri)

MEDAN | Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang saat ini bertransformasi berkat program desa binaan “Bank Sampah Berbasis GEDSI” yang diluncurkan sejak Juli 2025.

Program ini melampaui pengelolaan limbah karena secara khusus mengadopsi prinsip GEDSI (Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial) untuk memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang terpinggirkan.

Menurut Ketua Program Desa Binaan Bank Sampah USU 2025, Rosmalinda, menjelaskan bahwa Bank Sampah ini adalah metode pengelolaan sampah secara edukatif yang bertujuan mendidik masyarakat agar mampu mengelola sampah dengan baik sekaligus rajin menabung.

“Hingga saat ini, tantangannya lebih ke persiapan berikutnya. Banyak yang harus saya pelajari dan juga keterbatasan waktu para dosen di tim. Namun, ini sudah cukup terbantu oleh para mahasiswa lainnya,” kata Rosmalinda, Sabtu, (8/11/2025).

Pasalnya, program Bank Sampah merupakan inisiasi tim pengabdian USU yang berkolaborasi dengan Fakultas Hukum, Fasilkom TI, dan Teknik Lingkungan, serta didukung tokoh lokal seperti Sony Sucihati dan Kepala Desa Suparyo, SH.

Menurutnya sejak Bank Sampah dijalankan, partisipasi masyarakat dinilai sangat baik. Hal ini ditandai dengan perubahan perilaku nyata, yaitu lingkungan kini bersih, dan masyarakat mulai menyadari nilai kebersihan.

“Sebelumnya, tidak ada orang yang mau melintas daerah ini karena banyaknya sampah berserakan di jalanan. Tapi sejak ada program ini, sampah sudah tidak ada sehingga banyak orang berlalu-lalang,” ujarnya.

Mengusung konsep GEDSI, program ini melibatkan anak-anak melalui edukasi pemilahan dan daur ulang. Keterlibatan anak diimplementasikan dalam bentuk pengajian gratis dengan syarat membawa sampah yang dikumpulkan.

“Perempuan juga menjadi fokus utama karena sampah, terutama sampah rumah tangga atau sampah ekonomi, identik dengan mereka. Begitu juga dengan penyandang disabilitas yang yang sebelumnya terhambat oleh kondisi lingkungan dan stigma sosial,” tambahnya.

Dengan demikian lanjutnya, program Bank Sampah berbasis GEDSI di Desa Bandar Khalipah merupakan proyek sosial yang bertujuan mengubah stigma dan meningkatkan kemandirian kelompok marginal. Dengan partisipasi dan dukungan penuh warga lokal, program ini diharapkan menjadi model inklusifitas yang berkelanjutan.

“Satu perubahan kecil tetaplah perubahan. Perubahan itu adalah pencapaian yang keren dan layak disebarluaskan,” tutup Rosmalinda. (Red/Josephine)