MADINA – SINUNUKAN V | Berdirinya Pesantren AT-TAQWA Desa Sinunukan V, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, bukanlah hasil kerja satu orang dan bukan pula lahir dalam satu malam.
Pesantren yang kini berkembang menjadi pusat pendidikan Islam di wilayah tersebut lahir dari cita-cita panjang para sesepuh, tokoh masyarakat, warga transmigrasi asal Jawa, masyarakat lokal, serta seluruh elemen masyarakat Sinunukan V yang ingin membangun masa depan desa yang maju, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga kuat dalam pendidikan agama.
Gagasan itu berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam, mengapa kemajuan ekonomi harus dibarengi pendidikan agama Islam?
Para tokoh masyarakat saat itu meyakini bahwa kemajuan ekonomi tanpa pondasi agama dikhawatirkan melahirkan kehidupan yang jauh dari rasa syukur, mudah tumbuh kesombongan, serta melemahnya nilai-nilai sosial dan akhlak.
Dari musyawarah panjang lahirlah satu kesimpulan, solusi untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan akhlak adalah menghadirkan Pondok Pesantren.
HASIL MUSYAWARAH
Momentum bersejarah itu terjadi pada 10 Januari 2004, saat itu Koordinator Desa (Kordes) Sinunukan V bersama tokoh masyarakat menggelar musyawarah di kediaman Miswondo, yang saat itu menjabat Koordinator Desa, bertempat di Jalur 2 Desa Sinunukan V.
Dari musyawarah tersebut disepakati beberapa keputusan penting di antaranya dengan mendirikan Pondok Pesantren Sinunukan V.
Menetapkan lokasi awal pesantren di lahan sekitar Masjid Jalur 6 dengan ukuran kurang lebih 50 x 60 meter (3.000 meter persegi).
Menunjuk Ustadz Kiyai Drs. Masmgudi sebagai pengasuh pesantren.
Menggerakkan dukungan masyarakat, termasuk pengorbanan tenaga, pikiran, waktu dan dukungan dari keluarga-keluarga yang ikut membangun pondasi awal pesantren.
LAHAN DISETUJUI
Dalam perjalanan berikutnya, masyarakat kembali bermusyawarah dan mengusulkan agar pesantren memiliki sumber pembiayaan mandiri.
Usulan tersebut diterima dan pada tahun 2005 disetujui lahan usaha pesantren seluas kurang lebih 12 hektare.
Lahan tersebut kemudian menjadi salah satu penopang pembangunan dan operasional pesantren, termasuk untuk :
pembangunan fasilitas pendidikan, biaya operasional, mendukung kebutuhan santri, mendukung aktivitas pendidikan;
membantu keberlangsungan tenaga pendidik.
Di tengah masyarakat, lahan tersebut dikenal sebagai lahan wakaf atau lahan milik pesantren yang diperuntukkan bagi kemaslahatan pendidikan.
INFAK DAN GOTONGROYONG
Perjalanan membangun Pesantren AT-TAQWA sejak awal tidak hanya bergantung pada dana formal.
Pesantren tumbuh dari semangat kebersamaan masyarakat.
Bentuk dukungan yang diberikan masyarakat dan para donatur sangat beragam, di antaranya:
infak melalui transfer;
bantuan bahan kebutuhan pokok untuk konsumsi santri;
bantuan Al-Qur’an;
bantuan makanan siap saji;
bantuan kitab dan buku pendidikan;
bantuan pakaian santri;
bantuan material pembangunan;
bantuan tenaga melalui budaya gotong royong.
Semangat itu menjadi fondasi utama lahir dan berkembangnya pesantren hingga saat ini.
PERINTIS DAN DONATUR AWA
Masyarakat Sinunukan V mencatat sejumlah nama yang ikut memberi dukungan pada masa awal berdirinya pesantren, di antaranya :Sabar, Partu, Wiyono, Zainal Abidin, Sairin, Sukandi, A Jamil, Suroso, S Marpaung, Jumadi, Amran BJ, Darji, Edy S, Samaun, Asep Sopandi, Sumono, Parmuji, Enong Sutya Admaja, Kalan, Miswondo, Cipto, Saparuddin, Meizaldi, Sutrisno, Ojo, Haris, Tiamri Ritonga, Kasmo, Bonaim dan Dawam.
Gelombang dukungan berikutnya juga datang dari berbagai tokoh dan masyarakat, di antaranya :
Suwondo, Sumarsih, Ali Napiah, Lasyadi, Eka Novin Sasmiari, Dari, M Saifaddin, Siti Zuriah, Drs Kiyai Masmgudi, Solahuddin, Budi Purnomo, Jumiatik (Nenek Cinta), Maimunah, Binanto, H Shokip, Rahmuddin, Saman, Ali Ahmad Nasution, Masleni Dalimunthe, Djadi, Marto Suwarno, Adi Warman, H Mansyurdin, Muji Wahono, Efendi Siregar, Fadlan Siregar, M Hasan Basri, Wiyatun, H Rahmatullah dan H Wiyono, S.Pd.
Selain para donatur, masyarakat juga mengenang para wakif yang pada tahun 2004 menyerahkan lahan kurang lebih 0,5 hektare demi berdirinya pesantren.
Nama-nama tersebut antara lain :
Maimunah, Binanto, SE, Ganjar, Endang Subagja, Sutrisno, H Shokip, Suwondo, H Rahmuddin, Sarman, Ali Ahmad Nasution, Masleni Dalimunthe, Mbah Darji, Eyang Wano, Adi Warman, Darji, H Syamsuddin, Wahono, Atik, Efendi Siregar, Fadlan Siregar, M Hasan Basri, Wiyatun dan H Rahmatullah.
Hari ini, ketika bangunan pesantren berdiri dan aktivitas pendidikan berjalan, masyarakat Sinunukan V memandang bahwa pesantren bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol persatuan, gotong royong, infak, wakaf dan harapan.
Pesantren AT-TAQWA menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan dapat lahir dari semangat masyarakat yang percaya bahwa kemajuan ekonomi harus berjalan berdampingan dengan pendidikan agama dan pembinaan akhlak.
Demikian dipapar kan Wiyono selaku Ketua kepada Harian Orbit.
Reporter : OD 34







