Alumni Pesantren di Sumut Bangga Gus Muhaimin Panglima Santri

Parulian Siregar MA. (Foto/Ist)

MEDAN | Alumni pondok pesantren di Sumatera Utara (Sumut) bangga dan bersyukur Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin dinobatkan sebagai Panglima Santri.

Bahwa ada oknum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menyebut Gus Muhaimin panglima santri palsu, itu karena hanya persoalan iri dan dengki.

“Sebutan panglima santri disematkan kepada Gus Muhaimin sudah pantas, sebab beliau berjasa membuat Hari Santri lewat Fraksi PKB di Senayan. Untuk itu sebagai alumni pesantren kami bangga dan berterima kasih,” kata tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Sumut, Parulian Siregar MA kepada media di Medan, Rabu (9/8/2023).

Parulian alumnus Ponpes tradisional Syekh Ahmad Daud PPSAD Nabundong Padang Lawas Utara (Paluta), mengaku heran dengan pernyataan oknum PBNU tersebut.

“Apalagi yang bersangkutan baru seumur jagung sebagai pengurus dan juga kita tau rekam jejaknya,” ungkap Parulian.

Terkait penyebutan Panglima Santri kepada Gus Muhaimin itu tidak lain karena bagi santri Muhaimin memang panglima.

“Siapapun yang mau panglima silakan, tapi jangan salahkan orang sehingga membenarkan diri sendiri,” kata Sekretaris Ansor Sumut periode 2013-2019 tersebut.

“Kita juga hendaknya jangan lah terlalu mengusik orang, sebab saat ini kita harus masuk dalam konteks kesejukan, kerukunan, dan kedamaian. Bukan malah sebaliknya,” imbau mantan Ketua IPNU Sumut ini.

Ia juga berharap antara PKB dan NU jangan selalu dibentur-benturkan karena akan merugikan bagi warga NU sendiri.

“Saya hanya melihat saat mau pilpres makin meruncing tapi kenapa seperti menunjukkan gaduh di muka publik? Ada apa? Apakah ini bentuk pertanggungjawaban terhadap tauke atau bagaimana? Lha kalau itu saya sayangkan dan orang akan bertepuk tangan. Semua masih mungkin bisa kembali mesra dan akrab. Maka jalan itu yang saya pikir harus dicari. Wallohu a’lam bisshowaf,” pungkas Parulian Siregar. (Rel)