Banjir Bandang Batang Toru Hentikan Ekowisata, Wisatawan Batal Berkunjung

Saat Wisatawan Mancanegara asal Belanda menikmati Panorama Lingkungan Hutan di Tapanuli Selatan sebelum kejadian banjir bandang. Rep/Dok Ant

TAPSEL | Dampak banjir bandang dan tanah longsor yang menghancurkan kawasan hutan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara membuat rapuhnya ekosistem hulu dan berdampak langsung pada aktivitas ekowisata berbasis konservasi.

Diketahui bahwa bencana tersebut telah merusak jalur trekking hutan yang selama ini dikelola Tapanuli Trekking Tour bersama masyarakat lokal, sehingga seluruh kegiatan wisata alam terpaksa dihentikan sementara.

Material longsor berupa tanah, batu, dan kayu tumbang menutup jalur hutan dan alur sungai, meningkatkan risiko keselamatan serta memutus akses utama wisata.

Pengelola Tapanuli Trekking Tour, Decky Chandrawan, mengatakan aktivitas wisata diperkirakan baru dibuka kembali pada awal Februari 2026 setelah dilakukan asesmen dan pemetaan ulang jalur aman.

“Kami baru bisa menerima tamu di awal Februari 2026, padahal sudah ada pemesanan wisatawan mancanegara pada akhir dan awal tahun,” ujarnya sebagaimana diberitakan Antara, Kamis (5/2).

Pembatalan kunjungan berdampak pada pendapatan masyarakat sekitar, mulai dari pemandu lokal, pengelola homestay, porter, hingga penyedia jasa konsumsi.

Sejumlah titik longsor ditemukan di kawasan sempadan sungai dan area yang mengalami pembukaan lahan, memperkuat dugaan rusaknya daya serap tanah di wilayah hulu.

Pengamat lingkungan menilai lemahnya pengawasan dan alih fungsi hutan memperbesar risiko bencana hidrometeorologi di Batang Toru.

Bencana ini dinilai mengancam keberlanjutan ekowisata dan ekonomi masyarakat, sekaligus menjadi peringatan penting perlunya perbaikan tata kelola hutan Batang Toru. Ant