Banjir-Longsor Landa 12 Daerah di Sumut, 24 Orang Meninggal

Banjir merendam permukiman warga di salah satu desa di Madina. Ist

MEDAN | Bencana banjir dan tanah longsor melanda 12 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, yang meliputi Langkat, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padangsidimpuan, Serdang Bedagai, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Nias, dan Nias Selatan.

Bencana hidrometeorologi yang terjadi hampir bersamaan ini dipicu oleh tingginya curah hujan sejak Sabtu (22/11/2025) hingga Selasa (25/11/2025).

Meluapnya sejumlah sungai menyebabkan banjir dan tanah longsor yang berdampak tak hanya mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, tetapi membawa kerugian berupa jatuhnya korban luka dan korban meninggal dunia yang jumlahnya tak sedikit.

Berdasarkan data yang disampaikan Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan, hingga Rabu (26/11), jumlah korban akibat bencana banjir dan tanah longsor ini sebanyak 72 orang dengan rincian, 24 orang meninggal dunia, 37 orang luka ringan, 6 orang luka berat, dan 5 orang masih dalam pencarian.

Ferry mencatat terjadi 86 bencana yang meliputi 59 tanah longsor, 21 banjir, 4 pohon tumbang, dan 2 puting beliung.

Di Kabupaten Tapanuli Selatan yang mencatat 20 bencana dengan total 49 korban, Polri dan tim gabungan masih fokus melakukan pencarian satu warga yang belum ditemukan.

Sementara di Kota Sibolga yang mencatat 12 korban jiwa, tim SAR gabungan terus menyisir area longsor yang dinilai masih berpotensi bergerak akibat hujan lanjutan.

“Berdasarkan analisa, rangkaian bencana ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi hampir tanpa jeda selama beberapa hari terakhir. Di beberapa titik banjir, ketinggian air masih mencapai 1 meter, sementara hujan intensitas sedang-lebat masih terpantau di sebagian wilayah Sumut,” katanya, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Data BPBD Sumut

Berdasarkan data yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, hingga Rabu (26/11/2025) pukul 08.00, mencatat korban meninggal masih berjumlah 13 orang dengan sebaran bencana terjadi di tujuh kabupaten/kota meliputi Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padangsidimpuan, dan Nias Selatan..

“Hingga pukul 08.00 WIB pagi ini terdapat 13 orang dinyatakan meninggal dunia di tujuh kabupaten/kota,” ucap Kabid Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Provinsi Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati di Medan dilansir Antara, Rabu (26/11).

Sri Wahyuni melanjutkan, belasan korban meninggal dunia berada dua kabupaten di Sumatera Utara. Terdiri atas sembilan korban meninggal dunia di Kabupaten Tapanuli Selatan, di antaranya enam orang di Kecamatan Batangtoru, satu orang di Kecamatan Sipirok, dan satu orang di Kecamatan Angkola Barat.

Kemudian, empat korban meninggal dunia yang merupakan warga Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, akibat tertimbun material longsor di dalam rumahnya.

“Korban yang mengalami luka-luka ada 37 orang, dan tiga orang masih dinyatakan hilang di Tapanuli Selatan. Di Tapanuli Tengah masih dalam pendataan,” kata dia.

Pihaknya juga mengungkapkan, total 330 unit rumah rusak di Tapanuli Selatan terdiri atas 12 rusak berat, enam rusak sedang, dan 312 rusak ringan, serta satu unit sekolah rusak.

Sedangkan di Mandailing Natal terdapat pengungsi 561 kepala keluarga atau 2.244 jiwa, 13 unit rumah rusak berat, satu unit sekolah rusak, dan banjir merendam 85 hektare lahan pertanian warga.

Sementara di Tapanuli Utara ada 19 kepala keluarga yang tidur di pengungsian, lima unit rumah rusak berat, 64 unit rumah rusak ringan, dam empat titik ruas jalan rusak, serta satu jembatan terputus.

“Kalau di Nias Selatan satu rumah rusak berat, dan satu ruas jalan terganggu. Di Padangsidimpuan satu korban dinyatakan hilang, dan 220 jiwa tinggal di pengungsian,” tutur Sri Wahyuni.

Ribuan Rumah Rusak

Sementara itu Kapusdatin dan Komunikasi BNPB Abdul Muhari kepada wartawan, Rabu (26/11) mengungkapkan ribuan rumah warga rusak sehingga warga harus mengungsi ke tempat aman akibat terdampak bencana banjir dan longsor di empat daerah di Sumut yang meliputi Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Di Kota Sibolga, wilayah yang terdampak banjir meliputi Kelurahan Angin Nauli di Kecamatan Sibolga Utara, Kelurahan Aek Muara Pinang dan Aek Habil di Kecamatan Sibolga Selatan, serta Kelurahan Pasar Belakang dan Pasar Baru di Kecamatan Sibolga Kota. BPBD mengatakan banjir mengalir deras dan menghantam rumah, menyeret kendaraan, hingga merusak sejumlah infrastruktur.

Sedangkan wilayah yang terkena dampak tanah longsor meliputi Kelurahan Angin Nauli, Simare-mare, Sibolga Hilir, Hutabarangan, Huta Tonga, dan Sibual-buali di Kecamatan Sibolga Utara. Berikutnya, Kelurahan Parombunan dan Aek Mani di Kecamatan Sibolga Selatan serta Kelurahan Pancuran Bambu, Pancuran Dewa, dan Pancuran Kerambil di Kecamatan Sibolga Sambas. Selanjutnya, Kelurahan Pasar Belakang, Pasar Baru, dan Pancuran Gerobak di Kecamatan Sibolga Kota.

Akibat banjir dan longsor di Sibolga ini, satu warga mengalami luka-luka. Kerugian material untuk sementara mencakup 3 unit rumah terdampak termasuk 1 ruko. Beberapa akses jalan juga terdampak sehingga mengganggu mobilisasi warga.

Di Tapanuli Selatan, bencana banjir dan tanah longsor mengakibatkan 8 warga meninggal dunia, 58 orang mengalami luka-luka, puluhan rumah rusak, dan 2.851 warga terpaksa mengungsi.

Abdul menyebutkan 11 kecamatan di Tapsel terdampak bencana banjir dan longsor ini, yang meliputi Sipirok, Marancar, Batangtoru, Angkola Barat, Muara Batangtoru, Angkola Sangkunur, Angkola Selatan, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Tanah Timbangan, dan Angkola Muaratais.

Di Tapanuli Utara banjir dan longsor mengakibatkan 50 rumah terdampak dan memutus dua jembatan. BPBD setempat dan tim gabungan melakukan pendataan dan merekomendasikan jalur alternatif Pangaribuan-Silantom sebagai akses jalan sementara.

Sementara di Tapanuli Tengah, sebanyak 1.902 unit rumah terdampak banjir di 9 kecamatan, antara lain Kecamatan Pandan, Sarudik, Badiri, Kolang, Tukka, Lumut, Barus, Sorkam, dan Pinangsori.

BPBD Tapanuli Tengah dan tim gabungan mendirikan tenda pengungsi serta mendistribusikan bantuan sembako kepada warga terdampak.

“Seluruh pendataan seperti jumlah warga dan wilayah terdampak bersifat sementara. Data masih berpotensi mengalami perkembangan sesuai dari hasil kaji cepat lanjutan di lapangan,” jelas Abdul.

Abdul memastikan BNPB segera menangani keadaan darurat di wilayah Tapanuli Raya. Dia juga mengimbau agar masyarakat memantau informasi prakiraan cuaca secara berkala dan mengikuti instruksi resmi dari petugas di lapangan.

“Bagi warga yang tinggal di sekitar lereng perbukitan, bantaran sungai, dan wilayah rawan longsor dapat melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman apabila hujan lebat mengguyur wilayah tempat tinggal lebih dari satu jam,” katanya.

Jalan nasional putus

Dampak banjir dan tanah longsor kali ini juga mengakibatkan sejumlah titik jalan nasional di Madina, Tapsel, dan Tapteng putus total. Setelah jalan nasional Tapsel–Madina menuju Pantai Barat putus di sekitar Danau Siais, jalan nasional menghubungkan Sipirok-Medan via Tarutung dan jalan nasional di Tapteng juga putus total.

Amblesan terbaru berada di kawasan Anggoli, jalur utama pengiriman ikan dari Tapteng ke Tapsel.

Dengan akses utama terputus, distribusi sayur, ikan, dan kebutuhan pokok diperkirakan terhambat, bahkan berisiko memicu kelangkaan di sejumlah daerah.

“Kerusakan ini berkaitan dengan banjir bandang yang melanda Garoga dan Huta Godang kemarin,” jelas Kabid Sarana dan Prasarana Perhubungan, Sutan Harahap, dikutip dari Pojok Satu.

Banjir di Langkat Capai Atap Rumah

Sementara itu intensitas hujan yang tinggi di Kabupaten Langkat, mengakibatkan ratusan rumah warga di sejumlah wilayah di Kecamatan Besitang terendam banjir.

Menurut informasi dari video kiriman seorang warga Pekan Besitang kepada Orbit, Rabu (26/11), tampak ketinggian air mencapai seatap rumah warga.

“Hingga saat ini hujan masih deras, jalan lintas Medan-Banda Aceh, Besitang banjir gak bisa dilalui kendaraan. Banjir di sejumlah desa ketinggian air pun capai atap rumah warga,” ucap Aswan, warga Pekan Besitang, melalui telepon seluler, Rabu sore.

Tak hanya itu. Ia pun menceritakan, keadaan listrik yang saat ini masih padam. “Ketinggian air naik sejak Ashar, di Lingkungan Sedapan, Kelurahan Pekan Besitang. Listrik pun sudah padam dari tadi malam,” ujar Aswan, sembari menuturkan dirinya sedang ngecas HP di dalam mobil.

Diketahui, dari video berdurasi 22 detik itu tampak ketinggian air mencapai sekira 5 hingga 6 meter, dan terlihat sujumlah warga menaiki sampan untuk mengevakuasi warga yang terdampak banjir. (cnn/Ant/pjs/Teguh/OM-03)