Banjir Terparah Sejak 2006, Warga Langkat Sebut Layak Jadi Bencana Nasional

Kondisi banjir hari ke 6 di wilayah Pangkalan Berandan, Kabupaten Langkat.

LANGKAT | Memasuki hari ke 6 banjir di sejumlah Kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Heri Wijaya, berpendapat peristiwa banjir ini dinilai layak di tetapkan sebagai bencana nasional.

Pria asal Kelurahan Alur Dua, Kecamatan Sei Lepan itu menyebutkan, banjir merendam 16 dari 23 kecamatan di Kabupaten Langkat.

Menurutnya, dari data sementara sebanyak 122 ribu KK terdampak, dan menjadi banjir terbesar sejak tahun 2006 silam.

“Kalau ditetapkan menjadi bencana nasional menurut saya bisa saja. Karena pada tahun 2006 kemarin gak sampai kayak gini, gak parah kali seperti tahun 2025 ini,” ujar Heri, yang sedang melihat kondisi banjir di Jln Telaga.

Heri pun menceritakan bagaimana mulanya banjir besar ini merendam rumahnya selama 6 hari, ini sudah hari ke-6 daerah terendam banjir.

Namun menurutnya, puncaknya di hari ke-4. Tak lama kemudian datang air, bendungan di Paya Mala pecah bendungannya. Sampai ke pasar banjir tadi.

Heri pun menjelaskan jika banjir berasal dari aliran Sungai Pelawi. “Kalau rumah saya belum surut, sekitar 3 meter tinggi airnya, hampir mendekati seng,” ucapnya.

Heri menambahkan, saat itu masyarakat sekitar Kelurahan Alur Dua pun panik. Ada yang menyelamatkan diri ke masjid, ke kantor lurah, dan camat.

“Kalau hari ini debit air sudah mulai surut, udah banyak kurangnya, sekarang sepinggang orang dewasa,” kata Heri.

“Kalau istri dan anak sudah mengungsi, kalau saya mengungsi di kantor lurah,” tambahnya.

Masyarakat Kelurahan Alur Dua khususnya, memohon kepada pemerintah daerah untuk dapat memberikan bantuan berupa sembako dan keperluan masyarakat lainnya.

“Bantuan di kantor lurah ada, tapi ya dicukup -cukupi lah. Sampai hari ini masyarakat masih sangat mengharapkan bantuan pemerintah,” ujanya Heri.

Meski begitu menurut Heri, sampai saat ini tidak ada korban yang hilang atau meninggal dunia. “Cuma banyak ternak masyarakat yang mati. Ada 20 ekor kambing dan 5 ekor lembu,” ucap Heri.

Minta Perhatian Pemerintah

Sebelumnya, pantauan wartawan disejumlah tempat rumah ibadah di Kecamatan Sei Lepan, masih terdapat puluhan warga yang masi mengevakuasi diri dari banjir.

Nilawati, pengungsi banjir hari ke 6 di Masjid AT-Taqwa Alur Dua, Pangkalan Berandan Kabupaten Langkat.

Seperti salah satu warga bernama, Nilawati, yang ditemui di Masjid AT-Taqwa Alur Dua Pangkalan Berandan. Ia mengungkapan sudah 6 hari kami menginap di dalam masjid.

Dia bercerita kisah kehadiran mengevakuasi diri dan keluarga pada, Selasa malam sekira Pukul 12.00 WIB.

“Uda 6 hari kami disini, Dua hari kami tidak makan, mati lampu, dan saat itu ketinggian di pasar masih 1 meter,” pilunya.

Dia pun mengungkapkan keadaan rumah yang saat ini dalam keadaan rusak dengan sejumlah barang yang hanyut terbawa banjir.

“Dinding rumah kami jebol, sejumlah barang pun hanyut, untuk kebutuhan kami disini aja sudah menipis entah gimana,” pilunya

“Saya berharap pemerintah bisa memberi bantuan untuk membenahi bangunan rumah tempat tinggal kami. Saat ini untuk makan saja kami masih mengharap bantuan disini,” ucap Nilawati dengan sendu, saat bersama pengungsi lainnya di Masjid AT-Taqwa.

Reporter: Teguh