Dua Profesor Berlaga, UNTARA Diujung Tanduk?

MEDAN| Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan MSi, telah mengusulan pendirian Universitas Negeri Tapanuli Raya (UNTARA) ke Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, pada 28 Januari 2021. Namun, kini usulan proposal tersebut menuai pro dan kontra, Senin (12/4/2021).

Pantauan Orbitdigitaldaily.com, proposal Nomor : 034/ 101/ 34.4/ 2021, Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan, menjelaskan jumlah penduduk usia produktif (15 – 56 tahun) jauh lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif.

Nah, kondisi tersebut akan menjadi tantangan dan masalah besar jika tak diimbangi penyediaan lapangan kerja secepatnya. Dalam rangka percepatan pembangunan di Tapanuli Utara, transformasi IAKN menjadi UNTARA, solusi terbaik.

Selain itu, pendirian Universitas Negeri Tapanuli Raya diharapkan selaras dengan dukungan Kawasan Stategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan sesuai visi Pemkab Taput, lumbung pangan dan lumbung sumber daya masyarakat yang berkualitas.

Selanjutnya, Bupati Taput Nikson Nababan memohon kepada Presiden RI agar menyetujui usulan pendirian UNTARA di kawasan Tapanuli Raya, sebagai bahan pertimbangan turut dilampirkan,

  1. Kajian study kelayakan pendirian Universitas Negeri Tapanuli Raya di kawasan Tapanuli Raya, disusun tim ahli dari Universitas Sumatera Utara.
  2. Kajian analisa dampak ekonomi pendirian Tapanuli Raya di kawasan Tapanuli Raya, disusun tim ahli dari PT Sucofindo.

Selain hasil kajian, turut dilampirkan surat dukungan Ketua MPR RI periode 2019 – 2024, Ketua DPD RI periode 2019 – 2024, Ketua DPRD Pemprov Sumut periode 2019 – 2024, dan Bupati / Walikota se-Kawasan Tapanuli Raya serta organisasi kemasyarakatan dan organisasi kepemudaan.

Namun, permohonan usulan pendirian UNTARA yang diajukan Nikson Nababan, penerima penghargaan bergengsi itu bakal kandas, sebab sajian data tersebut terindikasi kurang lengkap, dan pihak Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) merasa dirugikan, khususnya mahasiswa angkatan 2015 silam.

Hal itu diungkapkan Profesor Yusuf Leonard Henuk, akademisi IAKN. Menurutnya, proposal UNTARA yang diajukan Bupati Taput Nikson Nababan dianggap bermuatan kurang baik dan terlalu dipaksakan.

Profesor Yusuf Leonard Henuk, mengungkapkan berbagai kelemahan proposal UNTARA yang diajukan ke Presiden Joko Widodo.

Salahsatunya ialah upaya menghilangkan data mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) angkatan 2015 lalu, dan bisa tersandung kasus hukum sebab menyajikan data tidak akurat sehingga merugikan nama baik IAKN.

” Data mahasiswi angkatan tahun 2015 dihilangkan, padahal sudah wisuda. Sebagai Bupati itu cukuplah mengurus pendidikan PAUD dan SMP sesuai undang-undang, bukan perguruan tinggi,” kata Profesor Yusuf L Henuk.

Guru besar IAKN berharap Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara menerima secara lapang dada rencana peningkatan status IAKN menjadi Universitas Kristen Negeri (UKN) yang diajukan pihak rektorat IAKN.

“Bupati harus duduk bersama IAKN, supaya tidak saya lapor karena proposal itu sudah rugikan nama baik IAKN dengan penyajian data bohong, ” kata pria kelahiran Kupang tahun 1962, Minggu (4/4/2021) lalu.

Sementara, Ketua tim ahli peneliti pendirian Universitas Negeri Tapanuli Raya (UNTARA), Profesor Marlon Sihombing dari Universitas Sumatera Utara, Prof DR Marlon Sihombing menampik dugaan pembohongan data mahasiswa yang tidak dilampirkan.

Profesor Marlon Sihombing MA saat dikonfirmasi Orbitdigitaldaily.com, mengatakan sebagai ketua resmi bukan liar, tentu dibawah naungan fakultas sesuai pengajuan proposal yang dilandasi moral.

“Kebohongannya dimana, kami melakukan kajian sebelum membuat proposal tentunya di awali dengan data analisis hingga tahap berikutnya dibahas forum diskusi resmi. Tidak kurang dari 10 kali pembahasan, “kata Marlon Sihombing lewat sambungan seluler, Rabu(7/4/2021) malam.

Profesor mengungkapkan berbagai masukan tanggapan dan pikiran dari tokoh masyarakat sudah ditampung, seperti survei dan study banding seperti Universitas Gajah Mada, IAIN Riau yang sudah transformasi.

“Dari proposal ada dua jenis data kajian yang kami lakukan untuk penelitian, pertama data primer yaitu lewat wawancara dan observasi yang kami himpun. Yang kedua, data sekunder, mungkin inilah dianggap Profesor Yusuf sebagai data bohong karena tidak melampirkan data mahasiswa angkatan 2015. Intinya, kami tetap mengedepankan kejujuran,” ungkap Marlon.

Selanjutna, Marlon Sihombing berharap Tapanuli Raya harus membangun inovasi dalam rangka mendukung wisata kawasan Danau Toba.

“Hadirnya Universitas Negeri Tapanuli Raya harus berdampak besar bagi masyarakat wilayah sekitaran Danau Toba,”tandasnya.

Reporter : Toni Hutagalung