GMNI Tebingtinggi Gelar Aksi, Serahkan Sayur dan Tempe ke Polres sebagai Simbol Matinya Demokrasi

GMNI Tebingtinggi Unjukrasa di depan Mapolres

TEBINGTINGGI | Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Cabang Tebingtinggi menggelar aksi unjukrasa di depan Mapolres Tebingtinggi, Selasa (23/6/2026). Dalam aksi itu, massa menyerahkan sayur dan tempe kepada pihak kepolisian sebagai simbol kritik atas kondisi ekonomi rakyat serta ruang demokrasi yang mereka nilai semakin menyempit.

Koordinator aksi, Rio, menyampaikan bahwa pemberian sayur dan tempe tersebut merupakan simbol keresahan mahasiswa terhadap kondisi masyarakat kecil yang saat ini masih menghadapi tekanan ekonomi, kenaikan kebutuhan hidup, serta berbagai persoalan sosial.

“Sayur dan tempe ini adalah simbol kehidupan rakyat kecil. Ketika masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, negara harus hadir dengan kebijakan yang benar-benar menyentuh rakyat, bukan hanya mengejar program yang bersifat seremonial,” ujar Rio dalam orasinya.

GMNI Tebingtinggi juga menyampaikan kritik terhadap kondisi demokrasi yang dinilai semakin sempit. Menurut GMNI, ruang penyampaian aspirasi mahasiswa harus dijaga sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.

GMNI menilai masih adanya tindakan represif terhadap mahasiswa dalam menyampaikan pendapat menjadi ancaman bagi kebebasan demokrasi. Mereka menyebut tindakan tersebut tidak sejalan dengan semangat reformasi dan nilai-nilai konstitusi.

“Demokrasi bukan hanya tentang pemilu, tetapi juga tentang kebebasan rakyat menyampaikan kritik. Ketika suara mahasiswa dibatasi, maka itu menjadi tanda bahwa demokrasi sedang mengalami kemunduran,” tegas Rio.

Dalam aksi tersebut, GMNI juga menyoroti keterlibatan institusi negara dalam berbagai program strategis pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). GMNI mempertanyakan fokus dan prioritas lembaga negara agar tetap menjalankan tugas utama sesuai fungsi dan kewenangannya.

“Polisi memiliki tugas utama menjaga keamanan, melindungi masyarakat, dan memastikan hukum berjalan. Jangan sampai masyarakat melihat institusi negara lebih sibuk dengan program tertentu sementara persoalan rakyat seperti ekonomi, kebutuhan pokok, dan keadilan sosial masih belum terselesaikan,” lanjutnya.

GMNI Tebing Tinggi menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan bentuk kepedulian mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial.

Dalam aksi tersebut, GMNI Tebing Tinggi membawa 8 tuntutan, yaitu:

  1. Evaluasi Total Proyek Strategis Nasional (PSN) : Mendesak pemerintah mengevaluasi seluruh PSN agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat dan tidak menjadi beban negara.
  2. Tuntaskan Persoalan BBM dan Tata Kelola Energi : Mendesak evaluasi distribusi energi dan persoalan kelangkaan BBM, khususnya di Kota Tebing Tinggi.
  3. Hentikan Represi Terhadap Mahasiswa dan Masyarakat : Menolak segala bentuk tindakan represif dalam penyampaian pendapat serta meminta demokrasi tetap menjadi ruang dialog.
  4. Evaluasi Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) : Mendesak pemerintah memastikan MBG berjalan transparan, tepat sasaran, dan tidak membuka ruang penyalahgunaan anggaran.
  5. Tolak Kebijakan yang Melemahkan Demokrasi : Menolak aturan yang berpotensi memperlemah kontrol publik terhadap pemerintah.
  6. Kendalikan Harga Kebutuhan Pokok dan Perkuat Ekonomi Rakyat : Mendesak pemerintah mengambil langkah nyata menjaga harga kebutuhan pokok dan meningkatkan daya beli masyarakat.
  7. Tolak Penempatan Aparat di Ranah Sipil Secara Berlebihan : Menjaga agar institusi keamanan tetap berjalan sesuai koridor hukum dan semangat reformasi.
  8. Realisasikan Penciptaan 19 Juta Lapangan Kerja Berkualitas dan Berkeadilan : Mendesak pemerintah menghadirkan lapangan kerja yang layak bagi generasi muda dan masyarakat luas.

GMNI Tebing Tinggi menegaskan akan terus mengawal kebijakan pemerintah dan menjadi bagian dari perjuangan rakyat. ( FDS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *