Tambah Dewi, pada intinya ada tiga indikator dalam Pilkada, yakni penyelenggara (KPU dan Bawaslu), peserta Pilkada (paslon/calon bupati dan wakil) dan pemilih yang termasuk di dalamnya wartawan. Ketiga indikator ini memiliki peran satu sama lain yang terintegeritas untuk menjadikan masyarakat pemilih menjadi cerdas. Seperti dalam memberikan informasi seputar pelaksanaan debat ke dua yang akan di gelar Minggu,(22/11/2020),pukul 19.00 sampai 21.30 WIB mendatang, yang di siarkan secara langsung oleh salah satu TV swasta.
Sedangkan anggota Devisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat KPU Provinsi Sumatera Utara, Benget Silitonga yang hadir dalam acara itu mengatakan, pemberitaaan visi-misi paslon khususnya paska debat, penting untuk diberitakan di media massa, agar masyarakat pemilih tidak senantiasa menganut paham politik transaksional. “Bercermin pada data Pilkada Karo tahun 2010, minat pemilih ke TPS hanya sekitar 66 persen. Tahun 2015 sekitar 68 persen. Sementara Pilkada kali ini KPU Pusat menargetkan Target Nasional pada angka 77,5 persen,” ujar Benget menginngatkan.
Bertepatan Pilkada yang digelar ditengah Pandemi COVID-19, Benget Silitonga meminta kolaborasi dan partisipasi banyak pihak khususnya media massa untuk ikut memberitakan pola hidup sehat dalam tahapan Pilkada Karo. Sehingga klaster baru penularan Covid-19 di tingkat KPU, KPS, KPPS, palson, tim sukses, sempatisan dan pemilih dapat terminimalisir.
“Untuk mencegah klaster baru pada hari H, pihak KPU akan menerapkan protokol kesehatan pada saat pencoblosan yaitu, pada C6 surat pemberitahuan yang di berikan kepada pemilih di buat jadwal atau waktu datang ke TPS, untuk mengurangi kerumunan.di mana satu TPS hanya di isi 500 pemilih yang sebelumnya 800 pemilih, Sehingga di Kabupaten Karo terjadi penambahan TPS menjadi 927 TPS,” terangnya.







