Menurut Hendriyono, apabila lamban direalisasi pembangunan Break Water pengaman pantai, maka tidak tertutup kemungkinan rumah-rumah penduduk yang berdampingan akan mengalami hal serupa.
Tindakan tanggap darurat, solusi tepat untuk menyelamatkan rumah penduduk, sebelum abrasi meluas hingga menggerus badan jalan nasional.
Keuchik (kepala desa) Lhok Pawoh, Teungku Yulizar yang ditemui awak media di lokasi kejadian saat gotong royong penanggulangan sementara menyebutkan, tiga rumah mengalami kerusakan parah, yakni rumah Cut Rosmala, Jailin dan Rasyidah (janda).
Sementara empat rumah lainnya berdampak atau terimbas masing-masing rumah Halimah, M Nizar, M Isa Siregar dan Supriadi.
“Untuk menghindari kerusakan lebih parah, masyarakat melaksanakan gotong royong dengan membuat benteng darurat menggunakan goni plastik berisi tanah dan batu. Namun terjangan ombak tinggi kian mengganas dan sudah sangat berbahaya sehingga dikhawatirkan rumah warga ambruk,” terang Teungku Yulizar.
Diakui Keuchik Lhok Pawoh, semenjak dua tahun terakhir pihaknya getol memperjuangkan pembangunan break water pengaman pantai, baik melalui media maupun dalam Musrenbang kecamatan hingga kabupaten. Hasilnya belum terakomodir hingga tiga rumah masyarakat terancam amblas.







