“Mereka sudah mengolah langsung komoditas Serei ini menjadi minyak Serei, dengan alat tradisional,” ucap Syahril.
Dijelaskannya, Serei Wangi ini memiliki beragam manfaat untuk bahan baku industri lainnya. Selain minyak bisa juga diolah menjadi sabun, parfum, kosmetik, antiseptik, aromaterapi dan sebagai bahan aktif pestisida nabati.
Disamping itu, minyak serai wangi ini ternyata juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bio-aditif bahan bakar minyak (BBM).
Sayangnya, petani saat ini masih memanfaatkan alat pengolahan yang masih tradisional. Dan pemasarannya pun masih skala lokal memenuhi permintaan kabupaten tetangga.
“Sudah banyak juga petani Serei Wangi ini di Aceh Singkil. Sehingga sudah selayaknya difasilitasi untuk pengadaan mesin pengolahan minyak. Sehingga pengelolaannya bisa memperoleh hasil yang maksimal dan hasil bisa lebih memuaskan,” ucap Syahril.
Untuk minyak kusuk serei wangi pemasaran lokal dijual dengan harga Rp50 ribu ukuran 600 ml.
Perlu dana Rp20 juta untuk pengadaan mesin pengolahan minyak Serei wangi ini. Alatnya sudah berbahan stainless dan lebih higienis, tambahnya.
Jika pengolahan bisa menghasilkan jumlah yang lebih besar, dan dibuat dengan kemasan yang bagus. Sehingga bisa dikirim ke Banda Aceh maupun ekspor keluar daerah lainnya.
Kalau pemanfaatan lokal saat ini sementara untuk dibuat minyak Serei dan untuk obat kusuk (urut) khusus untuk penyakit rematik. Pemasarannya masih lokal dan sementara kabupaten tetangga Pak-Pak Bharat Sumatera Utara (Sumut), terang Syahril.
Diharapkan kedepannya budidaya komoditas ini bisa lebih berkembang, dan dilengkapi dengan mesin pengolahan yang lebih modern agar hasil yang lebih maksimal, harap Syahril yang menyampaikan sedang diusulkan ke Bupati Aceh Singkil untuk sarana prasarana tersebut.
Reporter : Saleh







