Oleh – Rizanul Ariffin
MATAHARI di Medan pagi itu bangun dengan murah hati, menyirami jalan-jalan di sekitar Kesawan dengan cahaya keemasan walau masih ada sisa mendung bergelantungan di atas Kota Medan.
Di sepanjang Jalan A. Yani VII, keriangan puluhan anak muda mengisi udara. Kaos kuning cerah yang mereka kenakan seperti potongan sinar matahari yang bergerak, berkumpul di dekat garis start sebuah petualangan yang tak biasa.
Hari itu, mereka bukan hendak berlomba kecepatan, melainkan sebuah perjalanan pelan untuk menyentuh masa lalu Jelajah Warisan Budaya.
Acara yang digagas TRAS Sumatera dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumut ini lebih dari sekadar lomba. Ia adalah sebuah upaya lembut untuk merajut benang merah antara generasi muda dengan sejarah kotanya.
Dari 31 tim yang mendaftar, 26 tim yang terdiri dari tiga orang—kebanyakan pelajar SMA dan ada beberapa tim mahasiswa—akhirnya melangkah, menjadi penjelajah urban di jantung Medan.
Dengan selembar kertas berisi kuis dan larangan keras untuk ‘menyentuh mesin pencari Google maupun yang lainnya, mereka berjalan kaki menyusuri saksi bisu kemegahan zaman. Setiap langkah adalah pertanyaan. Setiap gedung adalah cerita yang menunggu untuk dibaca ulang.
Di Rumah Tjong A Fie, mungkin mereka membayangkan gemuruh pesta di balik jendela kayu. Di Mesjid Bengkok, mereka menengok ke dalam, mencari harmoni dalam setiap lengkungan. Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Medan, Titi Gantung, hingga Gedung London Sumatra—semua berubah dari sekadar latar belakang foto dan menjadi subjek yang hidup, yang perlu dipahami.
Keseriusan itu terpancar jelas. Di antara gemericik air mancur dan lalu lalang kendaraan, beberapa kepala tertunduk mencatat detail arsitektur. Lensa kamera sibuk menangkap sudut-sudut yang mungkin tak pernah diperhatikan.
Ada yang dengan gugup mewawancarai temannya di depan kamera ponsel, berusaha merangkai narasi untuk vlog. Yang lain duduk tenang, menggoreskan pensil di atas kertas, mencoba menangkap esensi sebuah bangunan bukan dengan piksel, tetapi dengan garis dan rasa.
Melestarikan Budaya
Puluhan peserta dalam lima rute berbeda itu seperti sungai kecil yang mengalir merata, menghidupi setiap sudut kawasan dengan energi penasaran mereka.
Di balik keseriusan, ada gemuruh keceriaan yang tak terbendung. Tawa meletus ketika jawaban kuis salah, diskusi seru tentang angle terbaik untuk foto, atau saling mengingatkan detail sejarah. Mereka berkomunikasi, bukan hanya dengan masa lalu, tetapi juga satu sama lain, membangun memori kolektif baru tentang tempat-tempat tua ini.
“Ini sangat baik untuk anak-anak muda,” ujar Ris, seorang guru yang mendampingi muridnya sambil menyaksikan keriangan itu dari pelataran Simpul Kota, sebuah cafe di mana Awal dan akhir lomba pagi itu.
Sebuah harapan sederhana yang disampaikan dengan mata berbinar. Harapan yang sama juga bergaung dari para penyelenggara. Adalah Salya Rusdi dari BPK melihat kegiatan ini sebagai cara efektif melestarikan warisan lewat digitalisasi—mengubah sebuah vlog, foto, dan cerita di media sosial.
Sekaligus menjadi museum virtual yang hidup. Sementara Nur Nainggolan, sang Ketua Panitia, bersyukur saat mengakhiri program itu.
Sebetulnya acara ini sempat tertunda karena negeri tengah duka akibat banjir bandang, akhirnya langit cerah mendukung niat baik ini untuk terejawantah.
Sebagai penjaga gawang kualitas, para juri—Rahmad Suryadi untuk foto, Rizanul Arifin untuk video, dan Nur Nainggolan untuk kategori jelajah—siap menilai setiap karya. Namun, hadiah jutaan rupiah hingga Rp 2,5 juta mungkin bukan lagi hal yang utama. Hadiah sesungguhnya telah mereka petik sepanjang setengah hari itu, sebuah pengalaman mengenal budaya dan dejarah serta sebuah kesadaran yang mulai tumbuh.
Saat matahari mulai condong ke barat, meninggalkan bayangan panjang di antara gedung-gedung tua Kesawan, para penjelajah muda itu pun bubar. Kaos kuning mereka perlahan menghilang dari jalanan, membawa pulang bukan hanya foto dan catatan, tetapi juga hadiah jutaan rasa kepemilikan pengalaman baru.
Mereka telah menghabiskan sehari bukan sebagai turis, tetapi sebagai pewaris. Dimana warisan itu kini bukan lagi sekadar batu, kayu, atau besi tua. Ia telah menjadi cerita di ujung jari yang siap diunggah, sketsa di dalam buku, dan kebanggaan tersembunyi di dalam dada—benih-benih lembut untuk mencintai, merawat, dan melestarikan. Sebuah awal yang cerah, untuk masa depan yang lebih menghargai masa lalu.*







