MEDAN | Capaian akseptor atau peserta KB baru hingga Oktober 2020 sebanyak 68,9 persen dan diharapkan bisa naik ke 90 persen.
Namun, untuk Metode Kontasepsi Jangka Panjang (MKJP) khusus Metode Operasi Pria (MOP) mencapai 100 persen lebih, bahkan Sumatera Utara juara 1 se- Indonesia KB MOP Vasektomi.
Hal itu dikatakan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumatera Utara, Drs Temazaro Zega MKes di aula utama Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara Jalan Gunung Krakatau Medan, Selasa (8/11/2020).
Acara kegiatan forum koordinasi kehumasan program bangga kencana dengan media tahun 2020 itu Temazaro mengaku bahwa total seluruhnya dalam program KB penggunaan kontrasepsi yang paling banyak menggunakan implan.
“Sementara untuk daerah terendah capaian programnya seperti pulau nias, pakpak barat, namun cenderung bagian timur sangat bagus,” katanya.
Kesempatan itu Temazaro juga menyampaikan bahwa peran penyuluh Keluarga Berencana (PKB) sangat dibutuhkan dalam menyukseskan program KB.
“Kerjasama dengan Pemda, melakukan intervensi desa untuk penanganan stunting dan bagaimana intervensi lingkungan dan kesehatan. Maka, PKB ditekankan, ketika lahir anak pertama, harus ada cara berikutnya agar mengatur jarak kelahiran anak sehingga kemungkinan stunting bisa dicegah,” ujar Zega.
Temazaro Zega didampingi Sekretaris Yusrizal Batubara dan Humas Ari Armawan menyampaikan, bahwa tahun 2021 disediakan biaya penggerakan KB melalui BOKB (Bantuan Operasional Keluarga Berencana).
Selain itu menyiapkan Pil KB yang tidak menggangu ASI dan menyediakan Alat Kontrasepsi (Alkon) Implan yang satu batang.
“Biaya tersebut langsung dari pusat kepada Organisasi Pemerintah Daerah atau Pemda/Pemko masing masing. Semuanya harus bersinergi dengan Pemprov, Pemda agar menggunakan dana Bangga Kencana itu,” kata Zega.
Dijelaskannya, penganggaran tersebut langsung ke Kabupaten/Kota, sedangkan perwakilan BKKBN Sumut hanya membantu stimulus untuk program Bangga Kencana.
“Namun, BKKBN provinsi akan melihat apa yang dikerjakan sudah sesuai dengan Juknis,” katanya.
Sementara Sekretaris perwakilan BKKBN Sumut Yusrizal mengatakan, untuk PKB dilakukan pengembangan kompetensi berupa pendidikan dan pelatihan. Melaksanakan kompetensi teknis, kompetensi manajerial dan sosial kultural. Memberikan tunjangan kinerja bagi PKB
“Kita tingkatkan dengan kompetensi tehnis, media sosial dan lainnya. Kita buat pelatihan virtual saat ini. Mereka diajarkan bagaimana menyusun pelaporan, juga ada kursus dan magang bagi PKB,” ujarnya.
Kompetensi Manajerial dan Sosial Kultural kepada PKB, lanjutnya, yaitu inovatif, buat perencanaan yang baik. Berintraksi sosial, membangun hubungan kerja dan pencarian informasi.
Reporter : Antonius Samosir







