MEDAN | Harga Cukai tembakau rokok yang naik pada tahun 2024 membuat sebahagian perokok aktif beralih membeli produk lintingan, karena harga yang terjangkau dan lebih murah.
Hal ini yang membuat Budi (52) seorang pedagang rokok membuka usaha tembakau, di Jalan Aman No 138 Kelurahan Suka Makmur Kecamatan Delitua, Kabupaten Deliserdang Sumatera Utara.
Budi menceritakan idenya serta awal mula berdagang tembakau yang dirintisnya sejak 4 tahun lalu sebelum Covid. Ia Belanja Tembakau hingga ke Pulau Jawa, sebutnya Kamis (26/9/2024).
“Awalnya sebelum Covid kita sudah berjualan, namun usaha agak menurun. Jadi punya ide coba berjualan tembakau. Kita tidak tau Kalau tembakau itu ada berbagai rasa seperti Surya, Sampoerna dll.
Jadi kita coba untuk belanja ke Pulau Jawa, Tangerang pada saat itu. Lalu saya rasa ini prospek, karena rokok sudah seperti kebutuhan primer,” ucapnya.
Ia juga mengatakan memulai usaha dari nol hingga berbelanja tembakau sampai pulau Jawa. Merokok sudah menjadi hal lumrah di kalangan pria dewasa maupun wanita, penjual tembakau pun masih sedikit di awal mula berjualan. Untuk harga dijual bervariasi eceran maupun grosir.
“Jadi saya memulai usaha ini dari nol dan mulai membeli tembakau dari pulau Jawa seperti Cianjur hingga ke Jawa timur, untuk berbagai rasa di toko tembakau saya ada. Karena 4 tahun Lalu toko tembakau masih sedikit. Saya jual eceran ada grosir pun ada. Untuk harga tembakau di tokonya dibanderol dengan sistem perkilo dengan harga terendahnya Rp110.000 hingga Rp300.000 – an. Sedangkan yang jual eceran beragam. Ada perpack Rp6000/50 gram yang termurah. Konsumen kebanyakan orang dari luar dibanding warga sekitar, ya orang tua juga mahasiswa,” sebutnya.
Disinggung terkait kenaikan harga cukai rokok yang membuat harga jual rokok kemasan menjadi mahal, ia mengatakan tidak berdampak ke penjualan tembakaunya. Malahan dampak penjualannya meningkat di saat covid
“Kenaikan harga cukai tidak berdampak sih, malahan saat Covid banyak pembatasan yang membuat perokok sulit mendapatkan tembakau. Juga perekonomian yang saat itu sulit. Nah banyak para perokok yang menyetok tembakau di rumahnya. Itulah pendapatan yang paling signifikan naik buat saya,” jelasnya.
Terkait mulai maraknya rokok non cukai atau ilegal membuat Budi kehilangan pelanggan dan berdampak terhadap penjualan yang menurun hingga 30% . Dengan harapan pemerintah berbaik hati serta lebih peduli
“Sangat berdampak sekali terhadap penjualan hingga 30% menurun. Saya berharap pemerintah lebih perduli dan berbaik hati kepada petani tembakau juga pedagang. Karena kita jual yang bercukai dan resmi,” pungkasnya.
Reporter : Iwan GB







