Medan  

Tahun Baru Islam Jadi Momen Konsulidasi, Pendiri Pesantren AT-TAQWA Berkumpul, Sepakat Rawat Warisan Sejarah dan Siap Perobahan AD/ART

MADINA | SINUNUKAN V | Bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan pada Selasa (16/06/2026), suasana berbeda terlihat di Aula Pesantren AT-TAQWA Sinunukan V, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Sesuai undangan yang sebelumnya disampaikan Ketua Pengurus Yayasan Pesantren AT-TAQWA, H. Wiyono, S.Pd, kegiatan temu ramah dan pertemuan para pendiri pesantren berlangsung lancar, penuh kekeluargaan dan berlangsung dalam suasana khidmat.

Pertemuan tersebut dihadiri para pendiri yang berdomisili di Sinunukan V dan sejumlah tokoh yang masih aktif mengikuti perjalanan pesantren sejak masa awal berdiri.

Turut hadir unsur Pemerhati Yayasan, Pengurus Yayasan, Dewan Guru, Kepala Sekolah seluruh tingkatan, Direktur sekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, unsur pemerintahan desa, penasehat hukum, insan pers serta aktivis.

Hadir pula Tim Hukum H. Wiyono, S.Pd dari Kantor Hukum Pondok Peranginan Afnan, SH & Rekan sebagai penerima kuasa khusus yang sebelumnya telah menyatakan kehadiran sebagai bentuk pendampingan hukum dan penghormatan terhadap forum musyawarah yayasan.

Acara yang dimulai pukul 09.20 WIB dan dipandu pembawa acara Junaedi tersebut diawali dengan pemaparan sejarah berdirinya Pesantren AT-TAQWA oleh H. Wiyono, S.Pd.

Dalam penyampaiannya, Wiyono mengulas kembali bagaimana gagasan besar pendirian pesantren dahulu lahir dari musyawarah para sesepuh, tokoh masyarakat, warga transmigrasi dan masyarakat lokal yang ingin menghadirkan kemajuan ekonomi yang berjalan berdampingan dengan pendidikan agama Islam.

Dalam forum tersebut juga disampaikan perjalanan panjang pembangunan pesantren yang menurut penjelasan Wiyono dilakukan melalui semangat gotong royong, infak, hibah dan dukungan masyarakat.

Wiyono menyampaikan bahwa dalam perjalanan awal pengembangan pesantren, dirinya bersama keluarga pernah mengambil keputusan menjual aset pribadi di kampung halaman sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan.

Ia juga menyampaikan bahwa pada masa awal pembangunan terdapat dukungan berupa penyediaan tempat tinggal bagi pengasuh pesantren sebagai bagian dari ikhtiar membangun pondasi pendidikan yang berkelanjutan.

Menurutnya, seluruh langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari cita-cita agar generasi tumbuh bersama kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.

Dalam kesempatan yang sama, Miswondo selaku mantan Kepala Desa dan tokoh yang disebut hadir dalam fase awal pendirian pesantren menyampaikan pandangannya.

Menurut Miswondo, pembangunan pesantren merupakan hasil perjalanan panjang dan kebersamaan masyarakat.

Ia menyatakan bahwa semangat awal yang dibangun para pendiri perlu terus dijaga agar pesantren tetap berkembang.

“Saya mengajak seluruh pihak untuk hadir, memberikan pemikiran dan menjaga semangat kebersamaan. Kalau ada yang belum baik, mari diperbaiki bersama. Yang sudah dibangun dengan niat baik jangan sampai kehilangan arah,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia juga menyampaikan dukungan agar proses organisasi yayasan dilakukan melalui mekanisme musyawarah dan melibatkan pihak-pihak yang memiliki keterkaitan sejarah dengan pendirian lembaga.

Usai kegiatan ramah tamah dan makan bersama, peserta yang hadir disebut menyepakati untuk kembali menggelar pertemuan lanjutan pada tanggal 28 Juni 2026 sesuai kesepakatan dalam temu ramah.

Agenda yang direncanakan dalam pertemuan tersebut antara lain pembahasan masukan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta penguatan struktur organisasi yayasan.

Dalam forum itu berkembang pandangan agar proses organisasi ke depan tetap memperhatikan sejarah pendirian yayasan, kebutuhan kelembagaan dan prinsip musyawarah. Pertemuan ditutup menjelang waktu Zuhur dalam suasana kekeluargaan.

Sejumlah peserta berharap semangat 1 Muharram menjadi momentum memperkuat persatuan serta menjaga keberlangsungan pendidikan di Pesantren AT-TAQWA Sinunukan V agar tetap menjadi bagian dari pengabdian masyarakat untuk generasi mendatang. (OD-34)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *