Jazir juga menjelaskan pentingnya fasilitas dan cara masjid menarik umat untuk salat berjemaah. “Dulu ada sekitar 816 orang di kampung Jogokariyan yang tidak salat, kita datangi ke rumahnya, kita ajari salat. Yang belum mau ke masjid berjemaah kita undang kayak undangan nikahan, subuh kita sediakan kopi susu dan gorengan. Alhamdulillah, sekarang hampir semua sudah berjemaah di masjid,” tambahnya.
Fasilitas dan layanan juga peran penting dalam mengembangkan masjid menurut Jazir. Hal tersebut akan menarik perhatian masyarakat dan membuat orang-orang senang ke masjid.
“Layanan itu penting, imamnya yang bagus, yang azan bagus, fasilitasnya bagus jadi orang senang. Dengan fasilitas bagus, masjid akan jadi tempat berkumpul dan kita harapkan menjadi pusatnya pengembangan budaya Islam,” kata Jazir.
Pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Puspo Wardoyo memiliki semangat yang sama dengan Musa Rajekshah dan Jazir. “Akan kami jadikan Masjid Al Musannif sebagai tempat dakwah, bisnis dan lainnya karena masjid harus menjadi pusat peradaban dan budaya. Saya harap ini dimanfaatkan umat bukan hanya menjadi tempat salat,” katanya.
Puspo juga menambahkan bagi masyarakat yang memiliki lahan bisa menghubungi YHA untuk dibangunkan masjid karena ini merupakan cita-cita Ketua Dewan Pembina YHA H Anif membangun 100 masjid di Sumut.
“Saya sempat berbincang dengan Pak Hanif dan dia bercita-cita membangun 100 masjid di Sumut. Setelah percakapan itu, inilah yang di bangun pertama. Kami sangat berterima kasih sudah dipilih. Jadi, kalau ada yang mau tinggal siapkan saja lahan,” kata Puspo.
Peresmian Masjid Al Musannif ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Musa Rajekshah dan Puspo Wardoyo. Peresmian ini juga disaksikan Konjen Kehormatan Republik Turki untuk Pulau Sumatera Rahmat Shah, Rektor UIN Sumut Syahrin Harahap, pengurus DMI Sumut, DMI Medan, tokoh agama dan masyarakat.cr-03







