MEDAN | Ketupat tak hanya identik dengan perayaan Idul Fitri, tetapi juga menjadi sajian khas yang hadir dalam momen Idul Adha. Di berbagai daerah, tradisi memasak ketupat menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana lebaran haji, termasuk di Kota Medan.
Salah satu tradisi yang masih terus hidup adalah membuat ketupat dari sarang ketupat—anyaman daun kelapa muda yang diisi dengan beras ketan atau pulut, kemudian dimasak bersama santan dan beragam bumbu. Ketupat ini biasanya dihidangkan bersama aneka menu khas seperti rendang, gulai, atau kari.
Tidak terkecuali Idul Adha tahun ini yang jatuh pada hari Jumat 6 Juni 2025, ketupat diperkirakan masih tetap menjadi menu khas favorit hidangan keluarga sebagian besar umat Islam di tanah air.
Sudah menjadi pemandangan lazim, saat menjelang Idul Adha ini, ramai warga yang berburu sarang ketupat.
Momentum ini pun dimanfaatkan para pengrajin maupun pedagang musiman untuk mendapat cuan dari menjual sarang ketupat.
Di Jalan Denai, Kota Medan, misalnya, beberapa hari menjelang Idul Adha banyak bermunculan pedagang sarang ketupat menjajakan dagangannya.
Salah satunya adalah Lia (33), seorang pedagang musiman yang hanya berjualan sarang ketupat saat momen hari besar keagamaan.
“Saya kalau berjualan sarang ketupat hanya saat hari besar Islam saja, ya seperti Idul Fitri maupun Idul Adha,” ujarnya saat ditemui Rabu (4/6/2025).
Meski sudah mulai membuka lapak, Lia mengaku penjualan tahun ini masih sepi. Ia memperkirakan peningkatan pembelian baru akan terjadi sehari sebelum lebaran, saat masyarakat mulai mempersiapkan hidangan khas Idul Adha.
“Saat ini belum kelihatan peningkatan penjualan. Kemungkinan besok, H-1 Idul Adha, konsumen mulai ramai membeli sarang ketupat,” jelasnya.
Untuk harga, Lia menawarkan sarang ketupat dengan variasi harga antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per buah, tergantung dari ukuran. Pembelinya berasal dari berbagai wilayah di Kota Medan yang masih melestarikan tradisi memasak ketupat saat Idul Adha.
Bahan baku sarang ketupat sendiri didapatkan Lia dari pedagang daun kelapa yang memang memasok kebutuhan menjelang hari-hari besar keagamaan.
Tradisi membuat ketupat di tengah momen sakral Idul Adha ini menjadi bukti bahwa kuliner dan budaya lokal masih erat berkelindan dalam kehidupan masyarakat, terutama di kota-kota besar seperti Medan. Ketupat pun tak sekadar makanan, tapi menjadi simbol silaturahmi dan kebersamaan. (OM-11)







