Ragam  

Ketika Air Bersih Menjadi Napas Kehidupan

Peresmian sebuah sumber air di Aceh Timur

Idi, Aceh Timur I Bayangkan menjadi seorang ibu yang hendak melahirkan di puskesmas, namun tak ada air bersih untuk mencuci tangan dokter atau membersihkan ruang bersalin. Atau menjadi seorang perawat yang harus merawat luka pasien dengan persediaan air yang menipis.

Bukan sekadar skenario, inilah kenyataan pahit yang dialami masyarakat Aceh dan Sumatera Utara pascabanjir bandang dan kerusakan infrastruktur yang melanda sejak November 2025.

Air yang selama ini kita anggap remeh, tiba-tiba menjadi barang mahal yang tak ternilai. Rumah sakit dan puskesmas yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk memulihkan diri, justru ikut lumpuh karena krisis air bersih. Di tengah keputusasaan itu, secercah harapan mulai tumbuh.

“Kami merasakan betul bagaimana bencana memengaruhi layanan kesehatan”, kata-kata itu meluncur pelan dari mulut Adlinsyah, PLT Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Timur. Bukan sekadar kalimat formal dalam sambutan, tapi getaran suaranya menyimpan ribuan cerita tentang hari-hari sulit pascabencana. Beliau berdiri di hadapan para tenaga kesehatan, pejabat pemerintah, dan perwakilan Danone Indonesia, mewakili Bupati Aceh Timur yang berhalangan hadir.

“Banyak puskesmas dan rumah sakit terganggu karena keterbatasan air bersih,” lanjutnya. “Karena itu, bantuan ini sangat berarti bagi kami. Ini bukan hanya soal air bersih, tetapi tentang memastikan masyarakat kami tetap mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.”
Ada kelegaan yang tak terbendung dalam ucapannya. Di belakangnya, deretan tenaga kesehatan mengangguk setuju. Mereka adalah para pejuang garda terdepan yang setiap hari bergelut dengan keterbatasan, namun tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi pasien.

Sumber Kehidupan

Aceh Timur hanyalah satu dari sekian banyak wilayah yang terpukul. Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bireuen, Pidie Jaya, Kota Langsa, Aceh Tengah, bahkan hingga Tapanuli Tengah di Sumatera Utara—semua merasakan dampak yang sama. Air yang selama ini mengalir deras dari keran, tiba-tiba berhenti. Sumur-sumur tercemar lumpur. Jaringan pipa putus diterjang banjir.

Di tengah kepungan lumpur dan kerusakan, Danone Indonesia bergerak. Bukan sekadar datang membawa air kemasan yang bisa habis dalam hitungan hari, tapi membangun sesuatu yang lebih abadi, 35 titik sumber air bersih (deep well) yang mengambil air dari perut bumi, dan 7 unit water treatment yang mampu mengolah air bersih menjadi layak konsumsi.

Pembangunan infrastruktur ini menyasar tempat-tempat yang paling membutuhkan: 7 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan 29 Puskesmas/Puskesmas Pembantu (Pustu). Di sanalah jantung layanan kesehatan masyarakat berdenyut. Di sanalah ibu-ibu melahirkan, anak-anak diimunisasi, lansia berobat, dan korban bencana dirawat.

Vera Galuh Sugijanto, VP General Secretary Danone Indonesia, menjelaskan dengan nada penuh keyakinan, “Air adalah hal yang paling dasar untuk kehidupan dan menjadi kebutuhan utama di setiap fasilitas kesehatan. Tanpa air bersih, layanan medis, persalinan, hingga sanitasi tidak mungkin berjalan dengan aman.”

Vera benar. Di ruang bersalin, air digunakan untuk membersihkan ibu dan bayi, mencuci tangan dokter dan bidan, mensterilkan peralatan. Di ruang rawat inap, air dibutuhkan untuk memandikan pasien, membersihkan luka, menyiram toilet. Di dapur rumah sakit, air dipakai untuk menyiapkan makanan bergizi bagi pasien yang tengah memulihkan diri. Tanpa air, semua itu berhenti.

Yang membuat inisiatif ini istimewa bukan hanya besarnya bantuan, tapi juga caranya digotong-royongkan. Danone Indonesia tak bekerja sendiri. Mereka bergandengan tangan dengan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, pemerintah provinsi dan kabupaten, serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

Agus Jamaludin, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.

“Ketersediaan air bersih merupakan komponen esensial dalam menjaga mutu layanan dan keselamatan pasien, terutama di wilayah terdampak bencana,” ujarnya. “Kerja sama ini menunjukkan bentuk kolaborasi yang konstruktif dalam mendukung percepatan pemulihan layanan kesehatan.”

Sementara itu, Ikatan Bidan Indonesia turut menyalurkan perlengkapan kesehatan dasar. Para bidan yang setiap hari bergelut dengan kehidupan dan kematian di ruang bersalin, kini bisa sedikit lega karena kebutuhan dasar mereka mulai terpenuhi.

Momen paling mengharukan terjadi saat penandatanganan perjanjian kerja sama antara Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI dan Danone Indonesia. Di atas kertas, itu hanyalah dokumen formal. Namun di baliknya, ada janji untuk terus hadir, untuk tidak meninggalkan masyarakat ketika bencana usai dan kamera televisi sudah berpaling.

“Pengalaman panjang kami dalam pengelolaan air, termasuk rekam jejak AQUA selama 53 tahun menjaga kualitas air di Indonesia, menjadi dasar kami untuk membangun infrastruktur ini,” Vera menambahkan, merujuk pada komitmen jangka panjang perusahaannya.

Sejak akhir 2025, Danone Indonesia sebenarnya telah bergerak cepat menyalurkan bantuan darurat: puluhan ribu boks air mineral AQUA, nutrisi anak Bebelac siap minum, ribuan liter air bersih, serta bantuan dana bagi masyarakat terdampak di Aceh Tamiang, Tanjung Pura, Langkat, dan Tapanuli Tengah. Tapi pembangunan infrastruktur ini adalah babak baru—babak pemulihan jangka panjang yang jauh lebih bermakna.

Kembali ke Aceh Timur, Adlinsyah menutup sambutannya dengan pesan yang menggema di hati semua yang hadir: “Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut.”

Di deretan kursi di bawah tenda acara, seorang bidan muda tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Sejak pagi ia mendengar kabar bahwa puskesmas tempatnya bekerja akan mendapatkan sumber air bersih baru.

“Selama bencana, kami harus bolak-balik mengambil air dari desa tetangga. Pasien harus menunggu. Bayi baru lahir tak bisa segera dimandikan. Sekarang, semoga semua itu tak terulang lagi,” bisiknya pelan.

Di hari Rabu 4 Maret 2026 di Idi, Kabupaten Aceh Timur, saat matahari mulai meninggi, di bawahnya, puluhan titik pengeboran deep well mulai beroperasi, menyedot air dari perut bumi, mengalirkannya ke bak-bak penampungan, lalu ke keran-keran ruang perawatan. Air itu mengalir membawa kehidupan, membawa harapan, membawa kepastian bahwa di tengah bencana sekalipun, kemanusiaan tak pernah berhenti berdenyut.

Bagi masyarakat Aceh dan Sumatera Utara, air bersih bukan lagi sekadar kebutuhan sehari-hari. Ia adalah napas kehidupan yang memungkinkan mereka untuk bangkit, memulihkan diri, dan kembali tersenyum. Kini Danone Indonesia, bersama pemerintah dan para mitra, telah memastikan napas itu terus mengalir, tak hanya hari ini, tapi juga untuk hari-hari yang akan datang. Rizanul