MEDAN | Memperingati hari buruh internasional (May Day) 2026, massa yang tergabung dalam Aliansi Kemarahan Buruh dan Rakyat (AKBAR) Sumatera Utara (Sumut) menggelar aksi unjuk rasa di Lapangan merdeka Medan pada Jum’at (01/05/2026).
Ratusan massa aksi berkumpul di Masjid Raya Al-Mashun , kemudian melakukan konvoi berjalan kaki dan menaiki kendaraan menuju lapangan merdeka. Sebelum konvoi massa melaksanakan sholat jum’at terlebih dahulu di jalan Brigjend Katamso.
Selanjutnya aksi massa bergerak menuju persimpangan Grand City Hall, tepatnya di Lapangan Merdeka Medan sebagai titik utama aksi. Massa aksi berkonvoi sambil membentangkan spanduk maupun poster bertuliskan kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat maupun buruh, seperti :
’Lawan Kapitalisme, Imperialisme, dan Militerisme ! Kesejahteraan Buruh dan Pendidikan Gratis Adalah Kedaulatan Rakyat’
’Rakyat Bersatu Lawan Penindasan! Wujudkan Industri Nasional Dibawah Kontrol Rakyat’.
Aksi menutup jalan Balai Kota mengakibatkan kemacetan sehingga pihak kepolisian mengalihkan arus lalu lintas.
Dari pantauan Harian Orbit massa yang melakukan aksi merupakan gabungan dari berbagai Organisasi buruh, lembaga maupun elemen mahasiswa maupun masyarakat seperti Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Serikat Pekerja Multi Sektor (SPMS), serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Aksi May day 2026 massa membawa 21 tuntutan, diantaranya Mendesak Pemberlakuan upah dan kerja yang layak bagi buruh bukan upah murah, menghadirkan pendidikan gratis, demokratis, ilmiah, yang berpihak pada rakyat, menghentikan diskriminasi kerja terhadap kelompok rentan, Memberikan pendampingan hukum yang berpihak kepada buruh dan rakyat, serta mendorong pembentukan tim penetapan upah yang transparan, independen, dan melibatkan seluruh elemen buruh tanpa terkecuali, Memberikan kepastian status kerja kepada buruh, Menghentikan praktik union busting di pabrik-pabrik, Membangun alat persatuan rakyat, dan Mendesak pengawasan ketenagakerjaan yang tepat.
Koordinator lapangan dari AKBAR Sumut Agus Sinaga, menilai sistem kapitalisme menjadi salah satu penyebab utama ketimpangan yang dialami buruh dan masyarakat.
“Lawan kapitalisme! Hancurkan kapitalisme! Karena sistem ini membuat hidup kita semakin miskin. Bukan hanya buruh, tetapi juga kaum tani yang kehilangan ruang hidupnya,” tegas Agus
Ketua Serikat Pekerja Indonesia, Serikat Pekerja Multi Sektor (SPIN SPMS), Mardina, mengatakan kondisi sebagian buruh yang masih diperbudak di Indonesia.
“Saya melihat kondisi buruh yang ada di Indonesia saat ini, masih banyak terjadi outsourcing, buruh dijadikan sebagai budak. Selain itu, banyak terjadi ketimpangan yang dialami oleh buruh, mulai dari upah yang diberikan sangat rendah, Pemberhentian Hak Kerja (PHK) yang dilakukan secara sepihak kepada buruh, bahkan meskipun buruh tersebut mengabdi sampai tua,” ungkap Mardina.
Sementara itu, dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Kusno, menyoroti kondisi buruh saat ini dan menginginkan adanya perubahan dan kelayakan bagi buruh.
“Situasi buruh hari ini sangat memprihatinkan. Banyak masalah yang dialami kaum buruh. Untuk itu, kami dari FPBI menuntut adanya kelayakan, baik dari segi upah, jam kerja, maupun kelayakan hidup,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, dari aliansi mahasiswa, M. Raihan Zahrawi dari Himpunan Mahasiswa Siswa (HMI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) stambuk 2022, Ia menilai kehadiran mahasiswa dalam aksi buruh merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Mahasiswa harus belajar dari esensinya, karena dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ada pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu, mahasiswa turut memperkuat masyarakat, terutama kaum buruh sebagai suara rakyat. Saat ini masih banyak persoalan seperti upah dan jam kerja yang tidak menyejahterakan, bahkan ada buruh yang tidak dibayar saat. (OM/11)







