MEDAN | Kebijakan PT Pertamina (Persero) yang resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax per 10 Juni 2026 langsung memicu reaksi nyata di lapangan. Di Kota Medan, gelombang migrasi konsumen dari Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite terlihat jelas, memicu antrean panjang di sejumlah tempat pengisian bahan bakar.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan hingga Minggu (14/6/2026), situasi padat merayap terlihat seperti di SPBU Jl. Menteng Raya No.7, Medan Tenggara, Kec. Medan Denai, Kota Medan. Jalur pengisian Pertalite didominasi oleh kendaraan roda dua dan kendaraan pribadi roda empat yang mengular hingga bahu jalan raya. Sebaliknya, dispenser Pertamax tampak lengang dan hanya sesekali diisi oleh kendaraan tertentu.
Sebagai informasi, per Juni 2026, harga Pertamax mengalami penyesuaian dari yang sebelumnya berada di kisaran harga Rp12.400 kini melonjak drastis menjadi Rp16.650 per liter. Sementara itu, harga Pertalite masih dipatok stabil oleh pemerintah di angka Rp10.000 per liter.
Selisih harga yang mencapai Rp6.650 per liter inilah yang memaksa sebagian besar warga Medan Tenggara dan sekitarnya memutar otak demi menjaga keseimbangan dompet mereka.
Suara Konsumen
Beberapa orang pengendara sepedamotor matik, seperti Fadhil (27), warga Medan Denai, mengaku terpaksa beralih ke Pertalite karena beban operasional harian yang semakin menjepit.
“Biasanya saya selalu isi Pertamax karena mesin lebih enak dan awet. Tapi kalau harganya sudah sampai Rp16.650, selisihnya jauh kali dengan Pertalite. Buat kita yang kerja harian keliling Medan, ini terasa sekali di pengeluaran mingguan,” ujar Fadhil saat mengantre di SPBU Jl. Menteng Raya.
Meskipun antrean mengular panjang, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut sebelumnya telah memberikan komitmen bahwa pasokan stok Pertalite untuk kota Medan dipastikan aman dan mencukupi guna mengantisipasi lonjakan konsumsi akibat fenomena migrasi ini.
Masyarakat berharap pemerintah dan Pertamina dapat menjaga stabilitas pasokan BBM subsidi ini agar tidak terjadi kelangkaan di tengah tingginya permintaan pasar yang kian bergeser pasca-kenaikan harga Pertamax.
Laporan Faiz Tanjung







