MEDAN – Cita-cita keadilan dan kesejahteraan sosial belum terwujud, padahal telah 77 tahun kehidupan bernegara dan berbangsa dalam tiga masa pemerintahan yakni Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi. Ketimpangan dan kemiskinan lahir dari sistem ekonomi dan politik yang menyebabkan kekayaan serta sumber daya tidak terdistribusi secara adil.
“Di satu sisi, segelintir orang atau kaum 1 persen menguasai sumber daya. Sementara, orang banyak atau kaum 99 persen berebut potongan kecil dari kue ekonomi,” kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) Provinsi Sumatera Utara Ade Darmawan di sekretariat Jalan Flamboyan Medan, Selasa (17/5/2022).
Ia berbicara didampingi Wakil Ketua DPW Prima Sumut yang juga aktivis Johan Merdeka dan Zulkifli, serta Unggul Tampubolon dari Majelis Tinggi DPW Prima Sumut.
Ade Darmawan menegaskan Partai Prima yang hadir sejak 2020 sebagai antitesa atau pembanding bagi partai-partai politik yang telah ada. Dijelaskannya, kehadiran Prima sebagai antitesa lantaran melihat masyarakat sudah jenuh dengan partai yang ada selama ini.
“Prima hadir untuk semua golongan, terutama rakyat biasa. Prima juga hadir sebagai antitesa, keberadaannya sama sekali berbeda dengan partai lain,” tukasnya.
Ia juga menyatakan Prima punya integritas dan berjuang bersama rakyat memenangkan Pancasila, terutama pada sila ke-5 agar bisa terwujud dengan cara bergotong-royong.
Untuk itu, ungkapnya anggota Partai Rakyat Adil Makmur berasal dari masyarakat yang berintegritas. Bahkan, pengurus partai pun adalah orang-orang yang biasa turun langsung ke masyarakat petani, buruh dan lainnya.
“Prima diisi orang-orang pergerakan atau aktivis Sumut, bukan tokoh-tokoh politik. Bahkan, juru bicara Prima berasal dari kalangan muda mahasiwa yang akan selesaikan atau baru selesai kuliah, seperti Mahadir Matondang dan Erika,” katanya.







