TAPTENG | Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI terus melakukan sosialisasi Program Bangga Kencana sebagai upaya mewujudkan keluarga berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Kali ini, kegiatan sosialisasi digelar di Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, dan diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari masyarakat setempat, aparat desa/kelurahan, tokoh masyarakat, serta tokoh agama.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars KB, dilanjutkan dengan pemaparan materi dari sejumlah narasumber.
Hadir secara daring Anggota Komisi IX DPR RI, Sihar P.H. Sitorus, menyampaikan pentingnya peningkatan kualitas keluarga sebagai fondasi dalam membangun generasi emas.
“Topik utama kita hari ini adalah Keluarga Indonesia Emas. Dalam situasi saat ini, kualitas keluarga sangat penting dan berkaitan erat dengan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Kami dari Komisi IX terus mendukung program ini melalui pendampingan kepada ibu hamil melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK).” ujar Sihar.
“Kualitas anak juga sangat penting, kita sebagai orang tua mengharapkan anak kita tumbuh dengan baik dan sehat serta berkualitas. Dengan itu kita perlu menjaga dan memberikan asupan gizi anak yang baik,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir langsung di lokasi kegiatan.
Sementara itu, Pranata Humas Ahli Muda BKKBN, Ronny A.P. Situmorang, S.Sos., MA.,menjelaskan secara menyeluruh mengenai Program Bangga Kencana. Program ini mencakup siklus hidup manusia dari balita hingga lansia, dengan menekankan pentingnya perencanaan dalam setiap fase kehidupan.
“Perencanaan hidup mulai dari remaja, menikah di usia ideal (25 tahun untuk pria dan 21 tahun untuk wanita), hingga menjadi orang tua dan akhirnya memasuki usia lanjut sangat penting,” tutur Ronny.
Menurutnya melalui perencanaan ini, keluarga dapat memastikan gizi yang cukup, pendidikan yang memadai, serta masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka.
“Remaja perlu dibekali pengetahuan tentang hidup sehat, gizi seimbang, pendidikan tinggi, hingga kesiapan mental dan ekonomi sebelum menikah. Setelah menikah pun, perencanaan jumlah anak dan masa depan anak-anak harus dipersiapkan dengan baik,” ujar Ronny.
Selanjutnya, Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Dra. Rabiatun Adawiyah memaparkan secara teknis tentang alat kontrasepsi dan kaitannya dengan program KB.
“Ada tujuh jenis alat kontrasepsi yang disediakan, lima untuk perempuan seperti IUD, implan, pil KB, suntik, dan MOW. Sedangkan dua untuk laki-laki yaitu kondom dan vasektomi (MOP),” jelas Rabiatun.
Ia juga menyinggung tentang stunting, sebagai salah satu fokus utama program Bangga Kencana.
“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan gizi kronis, terutama terjadi sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Ini adalah masa emas atau 1000 Hari Pertama Kehidupan yang harus dijaga dengan asupan gizi yang cukup dan kasih sayang dari orang tua,” tegasnya.
Diakuinya BKKBN menegaskan bahwa kerjasama dengan Komisi IX DPR RI, menjadi penting karena seluruh program BKKBN berada di bawah pengawasan dan dukungan Komisi IX.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kabid Ketahanan Kesejahteraan Keluaraga Kabupaten Tapanuli Tengah, Halimah Nurillah Sormin, SKM, MKM. (Red)







